Wagubsu Ingatkan Warga Jangan Dekati Zona Awas Sinabung

bareskrimKABANJAHE | Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu), Ir H Tengku Erry Nuradi MSi mengingatkan warga, untuk tidak mendekati zona awas yang telah ditetapkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yakni radius 5 kilometer dari kaki Gunung Sinabung.

Penegasan ini disampaikan Wagubsu Tengku Erry saat mengunjungi sekaligus menyerahkan bantuan dari Khasin Ryu M Karatedo (KKI) di lokasi penampungan pengungsi GBKP, Jl. Katepul, Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sabtu (1/2/2014).

“Saya ingatkan kepada warga, jangan memasuki zona berbahaya karena kondisi Gunung Sinabung tidak dapat diprediksi. Lebih bijak mengutakan keselamatan,” sebut Erry.

Erry menegaskan, Desa Sukameriah berada di radius 3 kilometer bagian selatan G.Sinabung dan termasuk zona sangat berbahaya karena berdekatan dengan lintasan awan panas yang mencapai 4,5 kilometer. Untuk saat ini, BNPB melarang warga memasuki radius 5 kilometer dari puncak Gunung Sinabung.

“Tetapi dari laporan yang saya terima, masih banyak masyarakat yang kembali ke rumah pada siang hari untuk alasan tertentu, kemudian kembali ke lokasi pengungsian pada sore hari. Kepatuhan masyarakat sangat diharapkan agar tidak ada korban jiwa,” tegas Erry.

Erry juga mengatakan mendapat khabar bahwa ada masyarakat yang tewas akibat erupsi Gunung Sinabung Sabtu pagi. Namun informasi tesebut masih simpang siur dan belum dapat dipastikan kebenarannya.

Untuk itu, sebut Erry, masyarakat layak memahami langkah dan tahapan penanganan bencana. Pertama, cari dan selamatkan (search and rescue) yang meliputi langkah evakuasi untuk menghindarkan jatuhnya korban jiwa.

Kemudian tahap kedua yakni tanggap darurat yaitu menyiapkan lokasi penampungan sementara, menyediakan kebutuhan sandang pangan, jaminan kesehatan dan pendidikan. Dan tahapan selanjutnya adalah pasca bencana (rekonstruksi dan relokasi).

“Langkah pertama harus upaya penyelamatan. Jangan sampai jatuh korban. Untuk itu, semua pihak harus taat dengan aturan ini karena Gunung Sinabung mengancam keselamatan warga, termasuk relawan, jurnalis yang melakukan tugas di zona berbahaya,” jelas Erry. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *