Politisi dan Negarawan

Catatan: Junaidi

Junaidi
Junaidi

Kebanyakan orang menganggap bahwa seorang politisi yang berhasil mendapatkan kursi kepemimpinan (Presiden, DPR, MPR dan lain-lain) secara otomatis menjadi seorang negarawan, padahal belum tentu demikian. Seorang politisi belum tentu negarawan, tapi seorang negarawan biasanya juga seorang politisi.

Lantas dimanakah letak perbedaan antara politisi dengan negarawan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, di bawah ini akan disajikan makna politisi dan negarawan.

Politisi bermakna “Orang yang selalu berpikir tentang pemilu selanjutnya, selalu berpikir tentang kesuksesan partai. Dari defenisi ini maka lahirlah beberapa indikator dari seorang politisi, yaitu: Pertama; Politisi memiliki kemampuan normal, maksimal mendekati cemerlang, tidak dalam posisi melawan arus, tidak berani mempelopori perubahan dan pembaharuan struktural.

Kedua; seorang politisi hanya terpaku pada hal- hal rutin pola lama. Ketiga; Konsep yang dikemukakan adalah hal- hal lama yang telah berlangsung. Keempat; Seorang politisi hanya mampu menyelesaikan adalah hal- hal biasa, aksinya tidak menghasilkan reformasi terutama tidak revolusioner, dan total tidak menghentikan krisis, dan pasti mengecewakan masyarakat luas.

Kelima; Politisi umumnya menawarkan jargon dan retorika yang tidak berguna. Keenam;politisi biasanya tidak berani menghadapi resiko bertentangan dengan kekuatan yang berkuasa.

Sedangkan, seorang negarawan selalu berpikir untuk kesuksesan negara. Seorang negarawan adalah sosok yang merindukan generasi berikutnya. Ialah bukan sekedar generasi yang hadir melalui kelahiran (natality), lalu menambah populasi dan membantu peningkatan kepadatan penduduk.

Negarawan adalah sosok yang menaruh harapan besar pada kemutakhiran generasi-generasi masa depan yang lebih berkualitas. Generasi baru yang menggantikan generasi-generasi terdahulu yang pantas untuk tergantikan berkat usaha dari seorang negarawan.

Dari makna ini maka lahirlah empat indikator seseorang layak disebut sebagai negarawan, yaitu, pertama; Memiliki kemampuan yang sangat cemerlang dan jeli, lebih merupakan bakat terpadu dengan keberanian melawan arus dan bertekad melakukan perubahan dan pembaruan struktural.

Kedua; seorang negarawan berani berusaha memasuki hal- hal yang total baru, memilih menjadi pelopor atau pionir, sehingga konsep yang dikemukakan menjadi mengejutkan dan meragukan pihak- pihak yang masih berfikir dalam pola lama.

Ketiga; seorang negarawan mampu menawarkan solusi yang tuntas, mampu menawarkan reformasi total yang positif dan konstruktif, mampu manawarkan revolusi yang konstruktif, mampu menawarkan konsep dan aksi menghentikan krisis besar yang melanda satu bangsa atau beberapa bangsa, mampu menawarkan harapan dan peluang nyata, mampu membangun harga diri yang nyata dan bernilai tinggi.

Keempat; seorang negarawan adalah orang yang berani menghadapi resiko bertentangan dengan rezim dan atau kekuatan yang berkuasa.

Politisi dan negarawan sama-sama memiliki peranan dalam kancah perpolitikan di Indonesia, namun mereka memiliki perbedaan yang mendasar. Dari indikator masing-masing (politisi dan negarawan) sebagaimana yang telah disajikan di atas, maka jelas terlihat bahwa yang ada dalam benak seorang politisi adalah hanya sekedar mendapatkan keuntungan/kemenangan baik untuk dirinya maupun golongannya.

Bagi seorang politisi, yang terpenting adalah menang dalam persaingan (Pemilu). Oleh sebab itu, dalam rangka mendapatkan kemenangan dia akan menggunakan segala macam cara tidak peduli apakah cara yang digunakan itu benar atau salah. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bagaimana membangun generasi yang berkualitas untuk kemajuan Negara/bangsa untuk masa-masa yang akan datang.

Politisi yang berhasil mendapat kursi biasanya akan memanfaatkan kursinya itu hanya untuk kepentingan pribadinya. Coba lihat beberapa tahun belakangan ini semakin merosotnya kinerja anggota DPR dalam memperjuangkan nasib rakyat, moralitas dan rasa simpati terhadap rakyat telah berkurang dan yang ada hanyalah gaya hidup yang mewah dan terkesan glamour sangat menonjol ditengah kesusahan rakyat dan korupsi yang merajalela.

Hal ini berbeda dengan seorang negarawan. Bagi seorang negarawan kemenangan tidak menjadi tujuan utama. Negarawan sejati lebih mementingkan proses dari pada kemenangan. Yang ada dalam benak negarawan adalah bagaimana bisa “menelurkan” generasi penerus yang berkualitas untuk kemajuan bangsa. Bagi mereka, membangun Negara tidaklah harus mendapat kursi menjadi Presiden, DPR, MPR atau jabatan lainnya.

Saat ini, Indonesia merindukan sosok negarawan berkarakter yang mampu menjadikan bangsa Indonesia keluar dari keterpurukan. Pemimpin yang berkarakter baik dari pemikiran ataupun pergerakan yang dapat berkontribusi bagi bangsa Indonesia.

Sosok seperti itulah yang Indonesia perlukan. Mereka tidak hanya berpikir soal bagaimana political ataupun electical marketing untuk memenangkan pemilu, namun mereka dengan idealismenya terangkat sebagai tokoh bangsa yang memiliki kemampuan untuk menjadikan bangsa Indonesia ini ke arah yang lebih baik lagi.

Semoga di Pemilu 2014 ini, Negara kita mendapatkan pemimpin yag berasal dari politisi yang berjiwa negarawan, sehingga mampu mengantarkan Indonesia menjadi Negara yang maju dan lebih baik di masa-masa yang akan datang. (penulis adalah Dosen UMSU)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *