Bayi Tanpa Kelamin Butuh Uluran Tangan Dermawan

bareskrimMEDAN | Tak kuat rasanya melihat atau mengalami kondisi keluarga Valentina Nadapdap. Walau dirinya tetap tegar mengalami cobaan, namun tat kala hatinya punrapuh ketika melihat raut wajah bayi perempuan yang telah lama diidamnya.

Kini anak kelima Valentine Nadapdap terbaring mendapat perawatan tim medis RSUP Adam Malik Medan, dengan harapan mendapat kesembuhan dan mukjizat.

Begitulah harapan Valentina Nadapdap (24). Namun apa daya buah hati yang ia lahirkan 7 Februari 2014 tersebut belum diketahui jenis kelaminnya. Bahkan terdapat kelainan mulai dari daerah pusar sampai kelamin bayinya.

Bayi yang lahir sekitar pukul 3 sore pada tanggal 7 Februari itu, sesaat setelah dilahirkan Valentina buru-buru di bawa ke rumah sakit umum Porsea oleh bidan yang menolongnya bersalin di rumahnya Sigaol Timur, Kabupaten Porsea.

“Begitu aku melahirkan terdengar suara bidan yang menolong ku panik, sempat aku bertanya kenapa bayi ku, namun bidan langsung membawanya pergi ke rumah sakit, saat ku tanya jawabnnya, Gak apa-apa anak mu,” ceritanya.

Anak kelimanya tersebut ternyata dibawa ke rumah sakit umum Porsea, namun langsung dirujuk kembali ke RS HKBP Balige, yang ditemani Suaminya Gonggong Butar-butar (34) sempat nginap satu malam di rumah sakit tersebut.

“Ternyata baru satu malam di RS HKBP itu, langsung dirujuk ke Adam Malik tanggal 9 Febriari. Setelah seminggu akhirnya aku menyusul suami ku, karena penasaran sakit apa anak ku ini. Di Adam Malik saat menyusui penasaran aku dengan perban di bagian perutnya, karena penasaran ku buka. Kagetnya aku liat perutnya putih seperti kaca, bahkan usus itupun keliatan. Lalu ku liat lagi ke bawah tak jelas bentuk apa kelaminnya, seperti kelamin wanita, tetapi tak utuh. Ada bentuk lubang kecil di daerah pangkal paha nya yang sering keluar air. Agak kebawah terdapat anus namun seperti menyatu dan telihat tersendat kalau mengeluarkan kotoran,” ungkapnya.

Sudah hampir 3 minggu, ia bersama mertuanya Tamauli br Hasibuan di RSUP Adam Malik yang menunggu kepastian dokter penyakit apa yang dialami oleh bayinya. Valentina berkata bahwa dokter masih menduga-duga penyakit apa yang diderita oleh anaknya.

“Waktu hamil aku gak ada masalah apa-apa. Makanya aku bingung, sedih kenapanya anakku. Kalau dilihat dia sehat kuat menyusui. Tapi, dokter bilang akan dilakukan cek kromosom dengan biaya Rp 2 juta, dibilangnya juga akan dilakukan operasi sebanyak 3 kali. Bahkan bisa sampai 7 bulan di sini. Di situ aku bingung, masuk sini aja mengurus BPJS kelas III setelah 3 malam kami jadi pasien umum, biaya kami pun gak ada, aku hanya pengrajin tenun ulos di kampung, suamiku petani,” ucapnya sembari meneteskan air mata.

Sesekali Valentina terlihat diam dan melamun. Ia mengatakan kepikiran dengan anak-anaknya juga yang berada di kampung, ditambah kabar dari dokter harus dilakukan pengoperasiannya berturut-turut tentu akan memakan biaya yang besar.

“Hasil cek kromosom saja kata dokter akan diketahui sebulan lagi, karena setelah hasil kromosom di dapat akan di bawa ke Jakarta dan nantinya di kirim lagi ke Singapura. Jadi harus ditunggu lagi, sedangkan kami orang susah, tinggal di gubuk kecil di Sigaol Timur sana. Anak-anak ku yang di kampung saja entah makan etah enggak. Ini lagi masuk musim kemarau, suamiku hanya pekerja di sawah itu,” sebutnya terbata-bata.

Saat ditanya bagaimana kondisi kesehatan buah hatinya, Valentina terlihat semangat dan tersenyum kecil saat mengatakan bayi terakhirnya tersebut dalam 2 jam sekali ia susui, seperti tidak dalam kondisi sakit.

“Anak ku semua laki-laki, yang paling besar sudah kelas 3 SD. aku berharap yang terakhir ini anak perempuan. Tapi entah kenapa Tuhan berkehendak lain, mudah-mudahan dia tetap sama ku, seperti namanya Hotmaria. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *