Mahasiswa Kesehatan harus Hormati Privasi Pasien

bareskrimMEDAN | Mahasiswa kesehatan yang berhubungan dan berinteraksi dengan manusia (pasien) harus mengutamakan norma luhur pasien, menghormati privasi pasien dan tidak sembarangan menyampaikan informasi atau membocorkan rahasia si pasien.

“Itu merupakan janji mahasiswa kesehatan yang harus diterapkan mahasiswa kesehatan dan ini diucapkan dalam Capping Day sebelum mereka berinteraksi dengan pasien di rumah sakit,” kata Ketua STIKes Imelda, dr Imelda L Ritonga SKep MPd MN saat mengambil sumpah mahasiswa STIKes Imelda yang melakukan Capping Day di aula yayasan Imelda, Kamis (6/3/2014).

Capping Day dilaksanakan kepada 187 mahasiswa dari S1 Keperawatan, D3 Keperawatan dan D3 Kebidanan dari Program Study Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Imelda.

“Pelaksanaan ini dilakukan secara bersama untuk sleuruh angkatan tahun pertama. Dengan Capping Day ini mereka berjanji untuk melaksanakan tugas dan menghormati hak-hak pasien karena tenaga kesehatan ini tau semua rahasia pasien,” ujar Imelda.

Dalam studinya, jelas Imelda, mahasiswa kesehatan diharuskan untuk praktek dan melakukan berbagai tindakan, jadi tidak hanya teori saja. “Maka sekolah tinggi kesehatan itu harus memiliki lahan sendiri utnuk memudahkan mahasiswa melakukan praktek dan berinteraksi dengan pasien. RS Imelda dibawah naungan yayasan Imelda, jadi mahasiswa memiliki keleluasaan untuk melakukan praktek di rumah sakit,” katanya.

Dalam proses pendidikan di STIKes Imelda, sambungnya, mahasiswa diberikan 50 persen teori dan 50 persen praktek. Untuk D3 Keperawatan 60 persen praktek dan 40 persen teori. “Kalau S1 Keperawatannya lebih banyak teori yaitu 60 persen dan 40 persen praktek,” sebutnya.

Menurutnya, kalau hanya mengetahui teori saja tanpa dibarengi dengan praktek maka bisa menjadi bermasalah seperti bagaimana merasakan nyeri sakit yang diderita seorang pasien. “Jadi dia tau bagaimana rasanya sakit yang diderita oleh pasien,” imbuhnya.

Ia juga menyinggung tentang UU Keperawatan yang sudah lama diajukan ke DPR namun hingga saat ini belum juga disyahkan.”Alasan saya belum disyahkannya UU Keperawatan itu karena yang mensyahkan itu orang-orang yang pintar jadi cukup banyak pertimbangan,” katanya.

Walaupun belum disyahkannya UU Keperawatan itu, profesi keperawatan dalam melaksanakan tugasnya berpatokan kepada UU Kesehatan dan lainnya. “Di rumah sakit seluruh tenaga kesehatan itu adalah tim diketuai dokter, semua punya tanggungjawab. Jadi seorang perawat itu harus memiliki Surat Tanda Registerasi (STR), yang betul-betul profesional, tidak hanya menunggu perintah dokter. Perawat atau Bidan itu 24 jam berhadapan dengan pasien, jaid harus pintar melakukan observasi, walaupun yang menentukan tindakan itu adalah dokter,” jelasnya.

Jadi, tambah Imelda lagi, perawat/ bidan jangan hanya tergantung kepada dokter, tetapi juga memberikan laporan yang benar kepada dokter. “D3 Keperawatan juga harus memahami seperti psikologi kesehatan, obat-obatan dan radiologi sehingga tindakan bisa lebih cepat diambil. Jadi dia tau seperti kenapa harus dilakukan foto thorax kepada pasien dan lainnya,” ujarnya.

Acara Capping Day itu dihadiri Ketua Kopertis Wilayah 1 Sumut-NAD, Ketua PPNI Kota Medan dan Sumut, Ketua IBI Medan, Ketua Yayasan Imelda Medan dr HR I Ritonga MSc dan Ketua Aptisi serta undangan lainnya. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *