Remaja Diminta Tunda Usia Pernikahan

TEKS FOTO: Ketua Tim Penggerak PKK Sumut Sutias Handayani Gatot Pujo Nugroho menyampaikan sambutannya pada Rapat Persiapan Kegiatan Gebyar GenRe “Ikrar Menunda Usia Perkawinan” Tingkat Sumatera Utara (Sumut).
Ketua Tim Penggerak PKK Sumut Sutias Handayani Gatot Pujo Nugroho menyampaikan sambutannya pada Rapat Persiapan Kegiatan Gebyar GenRe “Ikrar Menunda Usia Perkawinan” Tingkat Sumatera Utara (Sumut).

bareskrimMEDAN | Gebyar Generasi Berencana (GenRe) yang akan dilaksanakan Perwakilan BKKBN Sumut, ke depannya harus mempunyai makna yang baik.

Hal itu diharapkan Ketua Tim Penggerak PKK Sumut Sutias Handayani Gatot Pujo Nugroho, dalam sambutannya pada Rapat Persiapan Kegiatan Gebyar GenRe “Ikrar Menunda Usia Perkawinan” Tingkat Sumatera Utara (Sumut), Senin (24/3/2014), di Medan.

“Kegiatan ini jangan hanya seremonial saja, remaja diminta menunda usia perkawinan, tetapi apa jalan keluarnya,” kata Sutias dihadapan Kepala Perwakilan BKKBN Sumut, drg Widwiono MKes.

Dalam menunda usia perkawinan untuk wanita 22 tahun dan pria 25 tahun, ujar Sutias, hendaknya diadakan konseling remaja untuk membuat kelompok-kelompok keterampilan, seperti pada tamatan SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.

“Libatkan juga peran tokoh agama dalam penundaan usia perkawinan,” harapnya seraya menambahkan dengan penundaan usia perkawinan diharapkan remaja siap menjadi ibu yang baik.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Sumut, drg Widwiono MKes menerangkan, kegiatan ini merupakan persiapan dalam rangka ikrar menunda usia perkawinan yang akan dilaksanakan 26 April mendatang.

“Ikrar menunda usia perkawinan akan dihadiri minimal 20 ribu pelajar yang dilakukan di 8 Kab/Kota,” ujarnya.

8 Kabupaten/Kota yang secara serentak melakukan ikrar menunda usia perkawinan, seperti Deli Serdang, Sergai, Tebing Tinggi, Simalungun, Binjai dan Langkat.

Dengan sasaran 20 ribu pelajar itu, jelas Widwiono, dilakukan advokasi kepada mereka, harapannya mereka akan termotivasi kalau melakukan pernikahan di usia 22 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi laki-laki.

“Itu merupakan usia yang ideal dari sisi kesehatan, sosial, ekonomi atau pendapatan. Latar belakang ikrar ini yang mendasar adalah untuk KIE kita beri informasi pada pelajar ini usia yang paling baik melaksanakan pernikahan dan pesertanya banyak, sehingga kita akan undang museum rekor MURI, dengan peserta yang paling banyak dan dicatat di rekor MURi,” imbuh Widwiono didampingi Kabid Keluarga Sejahtera dan Pendidikan Keluarga (KSPK) Perwakilan BKKBN Sumut, Irma Dimyati.

Kepala Badan KB Tapanuli Tengah, Budiman Ginting SH mengatakan, dalam memperingati HUT Tapteng 30 Agustus tahun lalu, Bupati Bonaran Situmeang mengadakan Martumba Tapteng dengan 15 ribu peserta. “Martumba itu merupakan tari pergaulan muda mudi dan dalam lagunya disampaikan pesan pembangunan,” terangnya.

BKKBN Sumut terus melakukan kerjasama dengan Pemkab Tapteng untuk menjadikan Martumba media menyampaikan pesan kepada kaum muda, bagaimana generasi muda agar menjauhi narkoba, seks bebas dan menunda usia perkawinan 22 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi laki-laki.

“Tapteng sudah siap melaksanakan ikrar menunda usia perkawinan yang dilaksanakan nanti dengan menghadirkan lebih 2000 pelajar,” kata Budiman. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *