Pemprovsu Bersama BKKBN Pecahkan Raih Rekor MURI Dunia

MEDAN | Pemerintah Provinsi Sumut bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berhasil memecahkan rekor MURI Dunia dalam kegiatan gebyar Generasi Berencana (Genre) yang dilakukan di Lapangan Merdeka Medan, Sabtu (26/4/2014).

Pelajar se-Kota Medan melakukan penandatanganan Ikrar Penundaan Usia Pernikahan dalam Gebyar GenRe.
Pelajar se-Kota Medan melakukan penandatanganan Ikrar Penundaan Usia Pernikahan dalam Gebyar GenRe.

bareskrimRekor MURI Dunia yang diraih Pemprovsu adalah pemecahan rekor Tarian Martumba yang sebelumnya dipegang Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) dan BKKBN memecahkan Ikrar Penundaan Usia Perkawinan (PUP) yang dilakukan secara serentak di 8 kabupaten/kota di Sumut yang diikuti sekitar 20 ribu pelajar.

Pencapai 2 rekor tersebut melibatkan sebanyak 20 ribu pelajar SMA/SMK di Kota Medan tercatat 6.000 pelajar, sisanya serentak berlangsung di Tebing Tinggi, Deli Serdang, Sergai, Pamatang Siantar, Tapteng, Binjai dan Langkat.

Maka dengan bangga Museum Rekor Dunia Indonesia mencatat pemecahan rekor tersebut dengan jumlah peserta terbanyak di dunia. Seluruhnya melakukan tarian Martumba yang merupakan tarian dengan diiringi musik daerah yang intinya mengajak pelajar untuk menunda pernikahan secara dini, ditambah dengan membacakan ikrar menunda usia perkawinan secara dini.

Selain sebagai kegiatan gebyar Genre, juga merupakan lanjutan Gebyar Provinsi Sumut yang ke 66 yang dihadiri oleh Gubernur Sumut, H Gatot Pujo Nugroho yang diwakili oleh staf ahli Gubernur Sumut Bidang Pendidikan dan Kesehatan Mhd Fitriyus, Ketua Tim Penggerak PKK Provsu Hj Sutias Handayani Gatot Pujonugroho, Plt Walikota Dzulmi Eldin beserta istri Rita Maharani Eldin yang juga Ketua PKK Kota Medan, Kepala BKKBN Pusat, Prof Dr Fasli Jalal, Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) Raja Bonaran Situmeang dan Igo Idol yang menjadi bintang tamu.

Dikatakan oleh Kepala BKKBN Pusat, Prof Dr Fasli Jalal mengatakan, gebyar Genre ini mengajak para remaja melalui proses transisi dalam kehidupannya yang pertama remaja ingin sekolah setinggi mungkin, kedua rencana pekerjaan dan karirnya ke depan.

“Ketiga, remaja merencanakan kehidupan berkeluarganya nanti, dan keempat remaja akan menjadi anggota yang aktif yang tidak mementingkan dirinya sendiri dan membantu masyarakat yang memerlukan dan kelima adalah remaja Genre yang harus remaja yang sehat. Karena itulah, hindari pernikahan dini, karena nanti membuat remaja tidak sehat,” ucap Fasli.

Remaja yang tidak sehat, lanjutnya, adalah remaja yang terancam meninggal pada waktu melahirkan; Terancam tidak tumbuh karena direnggut oleh kehamilan sehingga tulang-tulangnya tidak berkembang; Terancam mudah melewati perceraian karena tidak siap saat menikah muda dan karena itu akan merenggut kebahagaian remaja.

Ketua Tim Penggerak PKK Provsu Hj Sutias Handayani Gatot Pujonugroho sendiri mengucap syukur di mana ikrar ini terlaksana dengan baik dan memperoleh rekor MURI , akan tetapi tujuan bukan hanya Muri semata.

Namun, tujuan utama bagaimana mensosialisasikan tentang penundaan usia perkawinan di mana diharapkan juga anak-anak yang hari ini berkumpul menjadi duta-duta sekolah faham akan makna yang kita ikrarkan.

“Kita harapkan terbentuknya kelompok-kelompok tadi yaitu pusat informasi konseling remaja. Selain itu kita harapkan dengan adanya program seperti ini kita berharap bagaimana orang tua dan pemerintah memahami sehingga memberikan advokasi baik dari APBD maupun sumbangan-sumbangan masyarakat untuk bisa turut serta memperhatikan dan membina para remaja untuk bisa menggunakan waktunya lebih baik. Yang pasti penundaan usia pernikahan dalam rangka kesiapan remaja difisiknya, ekonominya dan pengetahuannya,” ungkapnya.

Selain itu, Plt Walikota Dzulmi Eldin sendiri mensuport ikrar tersebut dan juga mengajak agar menteladani tarian kebudayaan sehingga mampu berkomunikasi dengan baik dan memiliki nilai kompetitin, menyarankan remaja untuk berpartisipasi dan berkompetensi. Maka remaja harus miliki perencaan yang matang, guna menyongsong waktu dimasa yang akan datang.

Sementara itu, Bupati Tapteng Raja Bonaran Situmeang yang turut serta dalam gebyar tersebut mengungkapkan bahwa tarian Martumba serta lirik lagunya semua ciptaan dari guru-guru SMA-SMK Tapteng dengan pesan-pesan keluarga berencana Genre.

“Pertama kita bangga bahwa Rekor Dunia yang dulu milik Tapteng hari ini dipecahkan oleh Provinsi Sumatera Utara, kedua melalui kawan-kawan pers kita harus mengangkat Martumba itu menjali alat sosialisasi keluarga berencana untuk penduduk seluruh Indonesia. Rencananya di Hari Keluarga Nasional nanti tarian Martumba juga akan ditampilkan, sehingga bisa menjadi alat sosialisasi Keluarga Berencana. Harapan saya ke depan acara martumba ini menjadi acara Nasional, jadi jangan heran nanti suatu saat orang Papua atau orang ambon ikut Martumba di mana pesannya adalah Keluarga Berencana,” tukasnya yang mengatakan Martumba bermakna mengajak muda mudi berkenalan untuk mencari pasangan masing-masing. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *