PEMASARAN POLITIK

Catatan: Junaidi

Berpolitik hampir mirip dengan “berjualan”. Maksudnya, orang yang terjun dalam dunia politik haruslah pandai-pandai dalam memperkenalkan partai politiknya ke publik, minimal agar publik bisa mengenal partai tersebut dan akhirnya mau “membeli” nya dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Junaidi
Junaidi

Oleh sebab itu, kunci utama yang harus dimiliki oleh seorang politisi adalah pandai memasarkan (me-market) partainya tersebut.

Pemasaran politik atau yang umumnya dikenal dengan Political Marketing, sebagaimana disampaikan oleh Firmanzah (2007) adalah seperangkat metode yang dapat memfasilitasi kontestan (individu atau partai politik) dalam memasarkan inisiatif politik, gagasan politik, isu politik, ideologi politik, karakteristik pemimipin partai dan program kerja partai kepada masyarakat

Iklim demokrasi yang berkembang di Indonesia semenjak era reformasi telah membuka kesempatan bagi berbagai partai politik untuk berkembang. Praktek politik di Indonesia sendiri telah berkembang sedemikian pesat dengan memanfaatkan aplikasi berbagai disiplin ilmu manajemen seperti marketing.

Hal ini didorong oleh heterogennya masyarakat Indonesia serta meningkatnya taraf ekonomi dan pendidikan masyarakat yang membuat partai politik harus mengapl ikasikan berbagai praktek marketing untuk dapat bersentuhan dengan masyarakat.

Dewasa ini, pemasaran (marketing) sudah banyak diterapkan dalam politik, institusi politik pun membutuhkan pendekatan alternative untuk membangun hubungan dengan, konstituen dan masyarakat luas, dalam hal ini marketing sebagai disiplin ilmu yang berkembang dalam dunia bisnis yang diasumsikan berguna bagi institusi politik.

Dalam pemasaran politik, beragam cara dan pola dilakukan dalam rangka tersebut. Misalnya ada yang memasang bendera di jalan-jalan. Lihat saja pada untuk menyemarakkan Pemilu tahun 2014 yang telah berlalu, aneka spanduk menyemut di tiap-tiap sudut jalan, mulai dari sekedar memberikan ucapan selamat Ramadhan dispanduk-spanduk hingga yang terang-terangan cari dukungan.

Dalam pemasaran (marketing) politik yang di tekankan adalah pengunaaan pendekatan dan metode pemasaran (marketing) untuk membantu politikus dan partai politik agar lebih efesien dan lebih efektif membangun dua arah dengan konstituen dan masyarakat. hubungan ini diartikan secara luas, dari kontak fisik selama periode kampanye sampai dengan komunikasi tidak langsung melalui pemberitaan di media massa.

Pemasaran (arketing) politik telah menjadi suatu fenomena, tidak hanya dalam ilmu politik, tetapi juga memunculkan beragam pertanyaan para marketer yang selama ini sudah terbiasa dalam konteks dunia usaha.

Dalam pemasaran politik, isu politik bukan sekedar produk yang di promosikan, melainkan juga keterkaitan simbol dan nilai yang menghubungkan individu.

Dari pantauan penulis, aktivitas pemasaran politik sudah merambah ke media massa, baik cetak, online maupun elektronik. Beberapa parpol pasang iklan di koran-koran serta tokoh-tokohnya mulai mengkampanyekan kelebihan dan keunggulan partainya di media elektronik. Bahkan, beberapa figur anggota calon legislatif konon diam-diam menjalin kerjasama dengan lembaga riset tertentu untuk mengukur kansnya lolos sebagai anggota legislatif.

Jika dicermati, aktivitas pemasaran politik yang dilakukan oleh partai politik dan para tokohnya itu rata-rata baru sebatas pemanfaatan peran media massa (publikasi) dan riset pasar/politik. Untuk riset politik, sudah lama dimanfaatkan oleh elit parpol atau kandidat parpol yang maju dalam Pilkada, dan riset untuk para caleg baru menjelang Pemilu 2014 yang lalu.

Penulis melihat bahwa pemasaran politik memiliki peran yang ikut menentukan dalam proses demokratisasi. Dinegara-negara maju, partai politik mengarahkan kemampuan pemasaran mereka untuk merebut sebanyak mungkin konstituen. Berbagai teknik yang sebelumnya hanya dipakai dalam dunia bisnis, sekarang ini telah dicangkokan kedalam kehidupan politik. Semakin canggih teknik marketing yang diterapkan dalam kehidupan politik.

Sebentar lagi proses pemilihan Presiden secara langsung akan diselenggarakan di Negara Indonesia yang kita cintai ini. Siapapun orangnya yang akan maju sebagai Calon Presiden, maka ia harus mampu memasarkan dirinya secara cerdas, agar publik tertari untuk “membelinya” (memilihnya) menjadi Presiden untuk masa lima tahun ke depan. (Dosen FISIP UMSU)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *