Kasus Pengeroyokan Diacuhkan | Puluhan IRT Demo Mapolsek Patumbak

MEDAN | Puluhan Ibu Rumah Tangga (IRT) mendatangi Polsek Patumbak dengan tujuan menjumpai Kapolseknya Kompol Andiko Wicaksono untuk menanyakan langsung perihal laporan kasus penganiayaan dan pengeroyokan yang dialami oleh Henni Rahmayani (40), warga Jalan Pertahanan Patumbak Gang Seruai Desa Patumbak Kampung Kecamatan Patumbak yang dikeroyok oleh Fadli, Dana, Rizal, Mansa yang keempatnya warga Jalan Pertahanan Patumbak Desa Patumbak Kampung Gang Seruai dan Iyong warga Gang Sutra yang diduga diprovokatori oleh Ros Zakim dan Rizal, Selasa (6/5/2014).

bareskrimButet (40), salah satu IRT yang mendampingi beberapa temannya tersebut untuk menjumpai Kapolsek Patumbak mengatakan, bahwa kejadian penganiayaan tersebut terjadi sekira 1 Mei lalu sekitar pukul 22.30 WIB, tepatnya di Jalan Pertahanan Patumbak persisnya di depan Gang Seruai Desa Patumbak Kampung Kecamatan Patumbak dan sudah dilaporkan ke Polsek Patumbak dengan Nomor Laporan STPL/572/V/2014/SU/Polresta Medan/Sek Patumbak dengan menghadirkan dua saksi yaitu Ely Hartati dan Rani Simanungkalit.

Lanjut Butet, pengeroyokan tersebut bermula dari pesan singkat yang diterima warga Patumbak bahwa puluhan dump truck pengangkut material galian C melintas di Jalan Pertahanan Patumbak pada hari libur padahal dalam kesepakatan para pengusaha galian C terhadap warga bahwa setiap hari libur dump truck pengangkut galian C tidak boleh beroperasi.

“Kami dapat SMS dari beberapa warga yang berisikan bahwa galian C kembali beroperasi sewaktu hari libur, kemudian didalam sms tersebut kenapa ibu-ibu tidak menyetop truck galia C, apa sudah ada terima dari pengusaha?” ujar Butet.

Mendapat pesan singkat tersebut membuat para IRT yang berada di Kecamatan Patumbak menjadi emosi dan langsung melakukan penyetopan terhadap truck galian C.

Namun saat para IRT melakukan penyetopan tiba-tiba warga yang diduga suruhan pengusaha galian C langsung mendatangi Henni Rahmayani dan menganiayanya.

Ironisnya penganiayaan tersebut terjadi di depan dua orang anggota polisi, namun polisi tersebut hanya membiarkan penganiayaan itu terjadi. Akibat kejadian itu dan merasa laporannya tidak ditindaklanjuti Polsek Patumbak, maka puluhan IRT mendatangi Mapolsek Patumbak untuk menanyakan langsung proses kejelasan tindak lanjut laporan tersebut.

“Dulu sewaktu masa pak Triyadi setiap kami telepon selalu mengangkat dan selalu menjumpai kami kalau kami ada masalah. Kapolsek sekarang kami telpon tidak mau mengangkat,” kesal Butet.

Selama 2 jam para IRT menunggui Kapolsek Patumbak untuk hadir menjumpai mereka, namun perwira berpangkat satu melati emas ini tidak kunjung menemui para warganya tersebut.

Akhirnya, Wakapolsek AKP T Niari menjumpai para IRT dan mengatakan bahwa Kapolsek sedang berada di Poldasu, namun pernyataan Wakapolsek tersebut tidak dipercayai IRT yang meyakini kalau Kapolsek berada diruangannya.

Setelah beberapa jam menunggu ternyata Kapolsek juga enggan menemui para IRT. Hal tersebut membuat para IRT ini memilih membubarkan diri dengan perasaan yang kecewa.

Sementara itu, Kapolsek Patumbak Kompol Andiko Wicaksono yang berhasil ditemui wartawan mengatakan, polisi terus menindaklanjuti kasus yang dilaporkan ke Polsek Patumbak. Namun dalam laporan korban saat ini pihak kepolisian masih menunggu hasil visum karena hasilnya tersebut baru keluar selama 8 hari, selain itu saksi-saksi yang dihadirkan korban masih kurang. (man/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *