Ketahanan Pangan Indonesia Lemah

MEDAN | Tantangan bagi keberlangsungan hidup manusia di muka bumi ini adalah ketidakseimbangan antara terus bertambahnya populasi manusia dengan daya dukung alam serta ketersediaan kebutuhan hidup, terutama pangan dan air bersih.

Pelaksana Rektor Dr Ramadhan Hamdani Harahap menyerahkan cendera mata kepada Grouth Center Kopertis Wilayah I Prof Dr Ir Akhmad Rafiki Tantaowi Ms, setelah penandatanganan MoU.
Pelaksana Rektor Dr Ramadhan Hamdani Harahap menyerahkan cendera mata kepada Grouth Center Kopertis Wilayah I Prof Dr Ir Akhmad Rafiki Tantaowi Ms, setelah penandatanganan MoU.

Ungkapan tersebut disampaikan Prof Tarkus Suganda MSc Phd, pembicara dari Universitas Padjajaran Bandung dalam Seminar Nasional “Menggagas Ide Alternatif untuk mewujudkan Kedaulatan Pangan Nasional dengan Penerapan Sistem Pertanian Berkelanjutan” di Universitas Pembangunan Panca Budi (Unpab) Jalan Gatot Subroto Km 4,5 Medan, Kamis (22/5/2014).

Menurutnya, prediksi FAO, pada tahun 2050 populasi manusia di permukaan bumi, dengan asumsi tingkat pertambahan pendidik seperti saat ini (sekitar 2% per tahun) akan mencaai 9 miliar orang.

Di Indonesia sendiri, manurut data Biro Pusat Statistik berdasarkan hasil sensus tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 237,6 jura orang yang 49,8%-nya tinggal di perkotaan dan 50,20% merupakan penduduk di pedesaan.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi 9 miliar penduduk bumi, menurutnya diperlukan peningkatan produksi 60% lebih dari produksi saat ini. Untuk Indonesia sendiri ketersediaan atau ketercukupan pangan merupakan suatu tantangan yang sangat besar, terutama mengingat bahwa produktivitas pertanian Indonesia hanya meningkat 1% per tahun, sementara laju peningkatan penduduk 1,49% per tahun.

Dengan demikian bagi Indonesia, kondisi ketahanan pangannya termasuk kategori lemah. Tidak heran jika setiap tahun Indonesia selalu mengimpor pangan. Sementara dalam konsep kedaulatan pangan, sebutnya, ketersediaan pangan suatu negara harus sedapat mungkin berasal dari pasokan pangan seara mandiri dari produksi dalam negeri.

Oleh karena itu, untuk mencpaai kedaulatan pangan, maka produksi pangan nasional harus terus ditingkatkan.

Seminar nasional dibuka Rektor Unpab diwakili Pelaksana Rektor Dr Ramadhan Hamdani Harahap dalam sambutannya Unpab telah ikut berpartisipasi meningkatkan ketahanan pangan bekerjasama dengan Grouth Center Kopertis Wilayah I, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Balai Penelitian Tanaman Sayuran Kebun Percobaan Berastagi, Serikat Petani Indonesia (SPI), dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian/Loka Penelitian Kambing Potong.

“Tantangan yang dihadapi oleh pertanian saat ini adalah meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi pangan, dengan dampak lingkungan yang serendah mungkin,” ujarnya sambil berharap seminar yang dilaksanakan ini dapat mencapai target sesuai harapan.

Sebelumnya, Gubsu melalui Dahler Lubis menyebutkan ketahanan pangan merupakan sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan dalam proses pembangunan, ketahanan identik dengan kesejahteran dan kemiskinan.

Selain itu sebutnya, ketahanan pangan bukan hanya berpengaruh kepada sektor sumberdaya alam dan sumber daya manusianya. Yang paling penting harus diusahakan adalah bagaimana menciptakan kebutuhan pangan yang murah, terjangkau oleh masyarakat.

Sementara Ketua DPW SPI, Zubaidah berharap seminar yang dilaksanakan pada saat ini para peserta dapat mengambil manfaat dari apa yang disampaikan dari para nara sumber, untuk dapat dilaksanakan pada keluarga dan lingkungan masing-masing.

Sebelum acara seminar dilakukan penantanganan MoU antara Rektor dengan Ketua Grouth Center, Rektor dengan Direktur PPKS, Dekan Pertanian Unpab dengan Kepala Balai Penelitian Tanaman Sayuran Berastagi, Dekan dengan Ketua PSI dan Dekan dengan Kepala Loka. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *