ITM Lestarikan Pengelolaan Manggrove dan Burung Migran

MEDAN | Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Institut Teknologi Medan berpartisipasi ikut serta dalam pelestarian hutan manggrove dan burung migran di kawasan pantai Percut Seituan, Kabupaten Deliserdang.

bareskrimKegiatan ini dihadiri istri Gubsu Ny Sutias Handayani Gatot Pujo Nugroho, Kepala Desa Tanjung Rejo, Kapolda Sumut, Rektor Unimed Prof Ibnu Hajar Damanik, dan Kadis Kehutanan.

Penanaman perdana pohon mengrove, sebanyak 1000 pohon diawali istri Gubsu Ny Sutias Handayani di Desa Tanjung Rejo yang memberikan hak kepada Unimed seluas 60 hektar, dan akan ditambah lagi 100 hektar dari Kepala dusun 12.

Rektor ITM Prof Dr Ilmi Abdullah MSc melalui Kabiro Humas M Vivahmi SH MSi , Jumat (30/5) mengatakan, kegiatan pelestarian hutan manggrove dan burung migran yang diprakarsai oleh Universitas Negeri Medan bekerja sama dengan tujuh kepala dinas, pencinta lingkungan, yayasan sosial, mahasiswa dan masyarakat.

“Kita sangat bergembira karena ITM diberikan kepercayaan mengelola pantai manggrove dan burung migran seluas 0,2 hektar. Penanaman manggrove dibagi 20 kapling dan setiap kapling dipelihara oleh instansi, perguruan tinggi atau institusi tertentu dan setiap tahunnya dinilai utuk memperebutkan piala bergilir dari Rektor Unimed,” jelasnya.

Vivahmi menambahkan, jumlah mahasiswa ITM yang berpartisipasi dalam kegiatan ini bejumlah 35 orang yang terdiri dari mahasiswa pencinta alam, resimen mahasiswa (Menwa) dan mahasiswa teknik mesin.

“Keikutsertaan mahasiswa teknik mesin dalam kegiatan penanaman pohon manggrove dan burung migran kali ini untuk meningkatkan kekompakan dalam segala hal serta menciptakan kepribadian anggota dalam hal penanggulangan emisi karbon yang sangat parah,” tambahnya.

Disisi lain katanya juga untuk mempererat persaudaraan dengan kampus-kampus, sekolah dalam memperkenalkan konsep kenderaan masa depan yang lebih irit dan ramah lingkungan.

Sementara Rektor Unimed Prof Dr Ibnu Hajar Damanik mengatakan, begitu besarnya harapan masyarakat terhadap hutan mangrove ini untuk menjadikan hutan yang lestari di pantai barat ini. Sehingga diharapkan nantinya ini akan menjadi tempat pendidikan, pengajaran dan penelitian.

Apalagi Unimed memiliki sejumlah keahlian kajian-kajian pengabdian masyarakat, kita punya ahli dalam bidang boga, busana, batik dan lainnya. “Kita kontrak 10 tahun melibatkan perguruan tinggi, SMA, madrasah, pecinta alam, keahliah lingkungan hidup, dan lainnya yang mau bekerjasama,” katanya.

Unimed juga akan membuat kemah tiap Sabtu dan Minggu, pesta sekolah, ujian bersama sambil mengawasi hutan mangrove terjaga, terpelihara secara serius dan benar.

“Wisata mangrove dan burung migran akan menjadi kenyataan. Burung mingran di Tanjung Rejo ini ada yang berasal dari benua Eropa, seperti Inggris, Belanda dan Rusia,” tuturnya. (man/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *