MARI TINGGALKAN DUSTA

Catatan: Junaidi

Rasulullah menyebut orang yang senantiasa berdusta sebagai orang yang munafik. Mereka adalah sosok yang bermuka dua. Ucapannya tidak sejalan dengan prilakunya.

junaidi-SAgTak susah untuk menemukannya, karena Rasulullah telah menyebut karakter mereka dengan jelas : “ Ada empat sifat yang jika dimiliki seseorang berarti ia munafik tulen, hingga ia dapat meninggalkan sifat itu. jika dipercaya ia berkhianat, jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, jika berdebat ia berlaku curang.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Seorang pendusta sesungguhnya tak hanya menipu orang lain, tetapi membungkam nuraninya sendiri. Akibatnya, tertutuplah mata hatinya untuk melihat kebenaran. Bahaya ini telah lama diingatkan Ibnu Mas’ud: “Seseorang hamba yang terus menerus melakukan dosa dan menetapi kedustaan, maka hatinya akan dipenuhi titik hitam hingga seluruhnya menjadi gelap. Akhirnya Allah mencatat dia disisi-Nya sebagai pendusta”.

Bagi seorang pendusta tidak akan melewatkan hari-harinya tanpa menebar bisa. Fitnah dan isu-isu murahan menjadi santapannya. Akibatnya keutuhan dan kedamaian masyarakat menjadi terancam. Seorang pendusta biasanya sangat mudah mengumbar janji.

Bagi mereka janji adalah untuk diingkari. Akibat ulahnya, banyak orang yang dikhianati, dikecewakan dan disakiti hatinya. Untuk itulah berhati-hati dengan janji seorang pendusta. Seperti yang terjadi pada tokoh-tokoh politik yang senang mengumbar janji kepada rakyat banyak agar mereka dipilih dengan janji akan mengayomi dan mensejahterakan rakyat.

Lihatlah prilaku elit politik dalam melanjutkan rencana pembangunan gedung DPR yang menghabiskan uang rakyat trilyunan rupiah di tengah masih banyak rakyat yang kelaparan dan dihimpit kemiskinan.

Mengingat bahayanya yang begitu hebat maka seyogyanyalah kita campakkan sifat dusta dan biasakanlah untuk berkata dan berbuat jujur serta menepati janji. Jika kepercayaan sudah tertanam dalam hati masyarakat, maka dengan mudah kita akan dapat mengarahkan mereka dalam meretas kehidupan aman, damai dan tentram di bawah naungan ridho dan ampunan dari Allah.

Ada beberapa cara untuk dapat mengendalikan lidah agar terhindar dari dusta. Langkah pertama adalah diam. Peribahasa mengatakan: “diam itu emas” maknanya adalah untuk mendorong seseorang, agar selalu menimbang-nimbang segala apa yang ingin diucapkannya, karena seperti peringataan Rasulullah SAW dalam hadits “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik, atau hendaklah diam” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits Rasul di atas mengajarkan kepada kita untuk selalu berhati-hati, memikirkan, dan merenungkan apa yang akan diucapkan. Hendaklah kita menahan apa yang akan kita ucapkan, karena setelah ucapan itu terucapkan maka kita bisa repot dibuatnya jika tanpa berpikir dahulu.

Karena itu setiap muslim harus mampu berlaku arif untuk menentukan kapan saatnya untuk diam dan kapan saatnya untuk berbicara. Keduanya dilakukan atas kebutuhan dan pertimbangan yang matang. Sehingga tidak ada kesan, bahwa diam adalah jurus ampuh untuk menyembunyikan kebodohan dan ketidakmampuan.

Langkah berikutnya adalah dengan menyibukkan diri dengan hal-hal yang positif. Seperti : banyak membaca Alquran, meramaikan mesjid dengan kegiatan-kegiatan ibadah, dzikrullah, amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran).

Dalam artian, lidah kita banyak diarahkan untuk berkata-kata yang baik. Jadi, pemimpin harus selalu mencek antara laporan dan realitas sehingga bisa berkata dengan jujur kepada rakyatnya. Pemimpin hari ini harus banyak belajar dengan kejujuran para nabi Allah. Salah satu karakter anbiya’ adalah sidqul istislam (jujur dalam menjalankan perintah Allah).

Artinya, jujur dalam setiap aktivitas yang dilakukan baik zahir ataupun bathin. Langkah berikutnya, aktualisasikan perkataan dalam kenyataan. Jangan hanya panda berkata-kata (retorika) tapi justru miskin pengamalan.

Contoh, anggota dewan jangan hanya pandai ngomong atas nama rakyat, untuk rakyat, dari rakyat padahal kenyataannya memanfaatkan nama rakyat demi kepentingan pribadi dan partainya.

Kita seringkali sungkan berbuat jujur kala dibenturkan untuk mengakui kesalahan. Kita kerap takut berterus terang saat diminta menyampaikan aspirasi kepada penguasa yang zalim. Bahkan tak jarang, kejujuran kita tergadai oleh sebuah tuntutan pribadi yang mesti ditebus.

Kalau saja kondisi ini tidak segera diatasi, jangan harap sebuah tatanan masyarakat akan terbentuk dengan baik. Karenanya, kejujuran hendaklah dijadikan sebuah kebiasaan bagi masyarakat semuanya. Mereka mengaplikasikannya kapan saja dan di mana saja. Insya Allah bila kebanyakan penghuni negri ini telah menghargai akan arti penting sebuah kejujuran maka bangsa yang makmur dan sejahtera akan mampu didapatkan. (Pusat Studi Islam UMSU dan Wakil Ketua Majelis Pustaka PWM-SU)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *