Persiapan Pertamina Hadapi Penurunan Harga Premium, Solar dan Elpiji 12 Kg

MEDAN | Sehubungan dengan pengumuman penurunan harga Premium dan Solar oleh pemerintah, PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region I memastikan ketersediaan stok Premium dan Solar di Terminal BBM Sumatera Bagian Utara, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau.

KEPALA BARESKRIMStok BBM di 18 Terminal BBM Sumatera Bagian Utara dalam kondisi yang cukup. Stok Premium Sumatera Bagian Utara pada tanggal 17 Januari 2015 sebesar 123.991 kiloliter dengan penyaluran harian sebesar 11.048 kiloliter dan coverage days sebesar 11,2 hari. Sementara stok Solar Sumatera Bagian Utara pada tanggal 17 Januari 2015 sebesar 134.977 kiloliter dengan penyaluran harian sebesar 13.499 kiloliter dan coverage days sebesar 10 hari.

Menurut External Relation PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region I, Zainal Abidin, coverage days merupakan hari dimana Terminal BBM masih dapat menyalurkan BBM meskipun selama sekian hari tersebut tidak mendapatkan pasokan dari kilang atau Terminal BBM lainnya.

Terminal BBM di suatu provinsi bisa mengirimkan ke suatu daerah di provinsi lain dengan pertimbangan jarak dan biaya transportasi yang lebih efisien dibandingkan pengiriman dari Terminal BBM di provinsinya.

Terminal BBM senantiasa mendapatkan pasokan rutin dari kilang atau Terminal BBM lainnya sehingga jumlah stok senantiasa stabil meskipun penyaluran dilakukan setiap hari.

Pengumuman pemerintah, harga BBM solar seragam Rp6.400 per liter di seluruh Indonesia tmt 19 Januari 2015 pkl. 00.00. Pemerintah memberikan subsidi tetap untuk Solar senilai Rp1.000 per liter. Untuk Premium yang sudah tidak disubsidi pemerintah akan ada 3 harga, yaitu Luar Jawa, Madura, Bali (JAMALI) sebesar Rp.6.600/liter; Jawa-Madura Rp6.700/liter; Bali Rp7.000/liter.

“Premium di luar Jamali yang merupakan BBM penugasan ditetapkan sebesar Rp6.600. Dengan harga ini, tentunya margin Pertamina lebih rendah (<2%). Hal ini sebagai komitmen Pertamina mendukung pemerintah meringankan beban masyarakat di luar Jamali,” kata Zainal dalam siaran persnya yang diterima, Senin (19/1/2015).

Kebijakan harga BBM bersubsidi sejak 1 Januari 2015 memang akan mengikuti pola pergerakan harga minyak dunia. Apabila harga turun, akan turun dan apabila harga naik juga akan ikut naik. Namun, untuk kebijakan harga ini sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah.

Pertamina selaku badan usaha bertugas mendistribusikan sekaligus menjaga kelangsungan pasokan kepada masyarakat.

Pertamina juga memberikan kebijakan win-win solution kepada pengusaha SPBU agar pengusaha SPBU tidak mengurangi stok SPBU-nya menjelang penurunan harga BBM dan ketersediaan stok SPBU terjamin.

Solusi tersebut adalah 1-2 hari sebelum tanggal 19 Januari 2015, SPBU membeli BBM dari Pertamina dengan harga baru (harga yang lebih rendah) sementara SPBU menjual dengan harga lama (harga yang lebih tinggi) kepada konsumen.

Adapun, harga Elpiji 12kg akan turun sebesar Rp5.700 menjadi rata-rata Rp129.000 per tabung di tingkat agen dari harga sebelumnya rata-rata Rp 134.700 per tabung di tingkat agen. Penurunan harga ini tmt mulai tanggal 19 Jan 2015 pkl 00.00.

Sebagai informasi bahwasanya harga Elpiji 12 kg beragam antar daerah dengan pertimbangan jarak suplai dan kebijakan korporasi. Penurunan harga Elpiji 12kg disebabkan oleh penurunan CP Aramco yang menjadi salah patokan utama harga jual.

Elpiji 12 kg merupakan komoditas non subsidi dan dinikmati oleh kalangan menengah ke atas. Terhitung sejak 2 Januari 2015 lalu, harga Elpiji 12kg telah sampai pada nilai keekonomiannya sehingga selanjutnya harga Elpiji 12kg yang berdasarkan aturan menjadi kewenangan badan usaha akan floating mengikuti pergerakan harga CP Aramco dan juga kurs rupiah sehingga kedepannya Pertamina akan mengevaluasi harga keenomian Elpiji 12 kg secara periodik.

Peralihan Elpiji 12 kg ke 3 kg relatif tidak terlalu besar, dan dengan kecenderungan sekarang, masyarakat atas tersebut akan lebih terbiasa dengan perubahan harga sehingga peralihan itu dapat diminimalisir.

Penerapan Sistem Monitoring Elpiji 3 Kg (Simol3k) juga relatif berhasil mencegah terjadinya migrasi karena agen dan pengkalan lebih terpantau dalam pendistribusian LPG 3kg. Sistem Simol3k juga akan lebih efektif apabila pemerintah merealisasikan sistem distribusi tertutup yang diamanatkan oleh Permen ESDM No.26 tahun 2009 dan Peraturan Bersama Mendagri dan Menteri ESDM No. 17 dan 5 tahun 2011.

Sebagai informasi, rata-rata penyaluran harian Elpiji 12 kg se-Sumatera Bagian Utara dari tanggal 5 s.d. 15 Januari 2015 juga justru mengalami sedikit kenaikan daripada penyaluran normal harian. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *