LBH Pers Kutuk Kekerasan Jurnalis

MEDAN | Direktur Eksekutif LBH Pers, Hendrayana mengutuk tindakan premanisme yang dialami jurnalis. Seperti baru-baru ini yang dialami M Darwinsyah Purba, Redaktur Tabloid Sumut Berita.

KEPALA BARESKRIMSeperti diketahui puluhan premanisme dan seorang oknum TNI-AL menyerang kantor perwakilan Tabloid Sumut Berita dan menganiaya Darwinsyah Purba dengan brutal, di Jalan Rumah Potong Hewan, Lingkungan IX, No 128 Kelurahan Mabar Kecamatan Medan Deli.

Kekerasan jurnalis ini telah dilaporkan ke Polsek Labuhan dengan nomor laporan: LP/384/II/2015/SU/PEL-BLW/SEK-MEDAN LABUHAN, dan tercatat menambah panjang daftar tindak kekerasan terhadap wartawan.

Terkait kasus penyerangan berencana dan penganiayaan terhadap Mhd Darwinsyah Purba, LBH Pers meminta aparat kepolisian mengusut tuntas peristiwa tersebut. “Kami minta diproses sesuai aturan hukum yang berlaku,” tegasnya.

Sementara, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan mendesak polisi dalam hal ini Polsek Medan Labuhan untuk segera menangkap Citra alias Kempol yang diduga sebagai otak pelaku penyerangan tersebut serta mengungkap motif penyerangannya.

Koordinator Divisi Advokasi AJI Medan, Agoez Perdana menambahkan, pelaku penyerangan dan pengrusakan tersebut dapat dijerat dengan pasal berlapis menurut KUHPidana dan UU Pers No 40 Tahun 1999. “Dalam kasus ini polisi bisa menjerat pelaku dengan pasal berlapis, meliputi ketentuan pidana Pasal 4 ayat 1 dan ayat 3 junto Pasal 18 UU Pers No 40 Tahun 1999 dengan ancaman penjara 2 (dua) tahun atau denda Rp500 juta; serta pasal 351 KUHPidana tentang Tindak Pidana Penganiayaan,” ujarnya.

Sementara Humas IPJI (Ikatan Jurnalis dan Penulis) Sumut, Benny Lingga menegaskan, dalang penyerangan tersebut tidak hanya menggunakan pasal yang terdapat dalam UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers dan pasal 351 KUHPidana tapi juga KUHPidana Pasal 355 ayat 1 terkait penganiayaan berat yang direncanakan dengan ancaman kurungan 12 tahun penjara

“Kami siap membantu rekan kami sampai ke pengadilan dengan menyiapkan pengacara karena si pelaku ‘kebal hukum’, agar kasus ini bisa mendapat keadilan karena korban setelah dianiaya malah keluarga korban diancam akan dikirimkan peti mati dan para saksi diancam oleh orang tak dikenal diduga pelaku dibalik ancaman ini semua, Bayangkan sudah melakukan penyerangan berencana, penganiayaan serta pengancaman,” tegasnya.

Dia menambahkan, IPJI Sumut menyayangkan pihak Kepolsek Labuhan yang lambat menangani kasus ini terkesan ‘tutup mata’ sudah hampir dua minggu pasca kejadian pelaku masih berkeliaran dan menurut informasi dari korban bahwa diduga pelaku melakukan pengancaman terhadap korban dan para saksi.

“Kapolsek Labuhan terkesan lemah dan apa apa dibalik ini semua? kenapa pelaku belum ditangkap apa kami harus melakukan aksi demo besar-besaran di kantor Kapolsek Labuhan? karena terkesan lambat karena kasus dapat menjadi konflik internal kedepannya jika Kapolsek lambat menanganinya. Jika, Kapolsek Lebuhan tidak mampu menangkap pelaku secepatnya lebih baik mundur dan serahkan kepada yang mampu melakukannya,” tambahnya. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *