Kopertis Nonaktifkan 19 PTS di Sumut Buka Kelas Jauh

MEDAN | Koordinator Kopertis Wilayah I Sumut Prof Dian Armanto mengungkapkan, 19 perguruan tinggi swasta (PTS) di Sumut dinonaktifkan karena membuka membuka kelas jauh.

KEPALA BARESKRIM“Untuk mengetahui status izin dan akreditasi PTS di Sumut baik yang kedaluarsa maupun yang sudah tutup, masyarakat bisa membuka website forlap.dikti.go.id,” kata Prof Dian Armanto usai menerima bantuan satu unit mobil Toyota Kijang Inova dari BRI di kantor Kopertis Jalan Setia Budi Medan, kemarin.

Bantuan satu unit mobil itu diserahkan Pimpinan Wilayah (Pinwil) BRI Medan Ebenezer Girsang didampingi Pimpinan kantor cabang Iskandar Muda Nazaruddin kepada Prof Dian Armanto disaksikan Sespel Kopertis Drs Rudi Nababan MSi.

Menurut Dian, dari website itu juga akan kelihatan PTS mana saja yang dinonaktifkan dan sejumlah informasi lainnya seperti akreditasi, izin prodi maupun jumlah dosen serta kualifikasinya.

Dijelaskan Dian, kuliah kelas jauh atau di luar domisili izin yang diberikan tidak dibenarkan dalam sistem pendidikan nasional. Untuk itu, sejumlah PTS yang masih menyelenggarakan kelas jauh telah diperintahkan tutup dan dipindahkan ke kampus induk termasuk mahasisnya.

Diungkapkannya, kelas jauh itu artinya membuka perkuliahan di luar domisili. Misal ijin PTS di Medan, namun buka kelas jauh di Tapanuli, maka itu tidak diperbolehkan.

Bagi PTS yang dinonaktifkan itu, kata Dian, selain akan merugikan lembaga pendidikan tinggi itu sendiri juga dosen dan mahasiswanya. Sebab selama dinonaktifkan semua layanan akan dihentikan seperti PDPT, beasiswa, administrasi dan sertifikasi dosen.

Untuk mengaktifkannya kembali, kata Dian, Kopertis akan menyurati Pusat berdasarkan perbaikan yang telah dilakukan PTS itu.

Dian mengaku dari puluhan PTS yang dinonaktifkan itu, ada satu PTS yang kini sudah diaktifkan lagi setelah melakukan perbaikan.

Untuk itu, Dian mengimbau masyarakat, hati-hati memilih PTS yang sehat, agar tidak terjadi masalah di kemudian hari. Sebab dari 261 PTS di Sumut, cuma 84 PTS yang dinyatakan sehat.

Disebutkannya, PTS dinyatakan belum sehat itu karena akreditasinya belum ada, dosen masih lebih banyak S1, konflik pimpinan dan yayasan, pelaporan pangkalan data perguruan tinggi (PDPT) telat, rasio dosen dengan mahasiswa tidak sebanding.

“Kalau mahasiswanya banyak, maka dosennya juga harus banyak. Untuk Prodi ilmu sosial 1 dosen berbanding 45 mahasiswa, sedangkan Prodi eksakta 1: 30. Ada 10 kriteria PTS sehat, kalau satu saja terlanggar, maka tergolong belum sehat,” tuturnya.

Penyerahan bantuan mobil itu disebutkan Dian sebagai bentuk saling partisipasi dan kerjasama antara pihak Kopertis dengan BRI.

“Kita menggunakan BRI untuk pembayaran gaji seluruh pegawai Kopertis, penyaluran beasiswa serta dana lainnya yang masuk melalui rekening BRI,” kata Dian Armanto seraya menyebutkan bantuan mobil ini digunakan untuk keperluan operasional Kopertis Wilayah I.

Pinwil BRI Medan Ebenezer Girsang mengatakan pemberian bantuan ini sebagai CSR BRI yang peduli pendidikan.

“Bantuan yang kita salurkan tidak selalu dalam bentuk mobil tapi juga menyalurkan beasiswa prestasi kepada sejumlah PTS di Sumut,” ujarnya. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *