SMK Dwi Warna Laksanakan UN Sistem CBT

MEDAN | Sebanyak 257 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Swasta Dwi Warna Medan mengikut Ujian Nasional (UN) dengan sisten Computrized Based Test (CBT).

KEPALA BARESKRIM“SMK Dwi Warna salah satu dari enam SMK di Medan menyelenggarakan UN dengan sistem CBT atau ujian berbasis komputerisasi,” kata Kepala Sekolah SMK Dwi Warna Medan, Drs Yusra kepada Waspada, usai memantau para siswanya mengikuti UN.

Dia mengaku, bangga, SMK Dwi Warna yang dipimpinya salah satu yang ditunjuk pemerintah pusat menyelenggarakan UN sistem CBT.”Tidak semua SMK di daerah ini bisa menyelenggarakan UN dengan sistem CBT, Karen itu kami bangga ditujuk sebagai percontohan,” sebutnya.

Untuk mengantisipasi pemadaman karena sistem CBT membutuhkan listrik, maka, pihak sekolah menyiapkan satu genset cadangan.”Sejauh ini hari pertama UN belum ada gangguan.Semoga tetap demikian hingga UN berakhir, ” katanya.

Dia mengatakan UN CBT di SMK Dwi Warna dibagi dalam tiga waktu. Tahap pertama diikuti 90 siswa, demikian juga tahap kedua. Sedangkan tahap ketiga 70 siswa. Yusra mengatakan, meski sistem CBT baru pertama kali, namun siswa kami tidak menemui kendala.

“Bagi kami sistem CBT ini bukan hal yang baru. Sebab, sebelum system ini diberlakukan, Dwi Warna sudah memperaktekannya pada saat ulangan-ulangan reguler,” katanya.

Menurutnya, kebaikan UN sistem CBT antara lain, kemungkinan siswa menyontek tidak ada. Disamping itu, siswa pun lebih percaya diri dan lebih siap menghadapi UN tersebut.

Kemudian, lanjutnya, sistem ini lebih efisien dan tingkat kejujuran lebih terjamin.Mudah-mudah kedepannya sistem ini diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia. Paling penting, siswa SMA dan SMK yang mengikuti UN sistem CBT tak akan bisa mencontek Siswa mendapatkan soal yang berbeda satu sama lain. “Soalnya beda tiap siswa , jadi sangat tidak mungkin ada yang curang,” katanya.

Dia berharap mulai hari pertama hingga hari terakhir UN di SMK Dwi Warna berjalan lancar. Pelaksanaan UN diawasi seorang teknisi dan seorang petugas yang akan memberi tahu username serta password kepada siswa, untuk digunakan membuka server yang berisi soal ujian.

Sejumlah murid SMK Dwi Warna yang mengikuti UN mengaku lebih suka dengan UN berbasis CBT. Mereka beranggapan sistem tersebut dianggap lebih praktis dan tidak memakan waktu seperti saat masih menerapkan soal ujian dengan kertas atau paper based test (PBT).

“Saya lebih suka pakai komputer, enggak susah dan cepat selesai,” katanya. Dedi mewakili teman-temannya mengungkapkan bahwa kelemahan lain dari ujian berbasis kertas soal adalah pensil yang sering tidak terbaca saat dipindai.

Lain halnya dengan UN CBT, di mana setiap jawaban pasti tercatat dan terdata sebagai jawaban dari peserta ujian.Katanya UN sistem CBT karena lebih efektif dan efisien. “Gampang, simpal artinya tinggal ngetik saja,” katanya.

Pelaksanaan UN sistem CBT memang dilaksanakan lebih lama ketimbang UN sistem PBT, yaitu enam hari. UN sistem PBT lebih cepat, hanya tiga hari karena per harinya, mata pelajaran yang diujikan ada dua.

Seperti diberitakan, 16 sekolah di Sumut menjadi contoh percobaan melaksanakan rintisan UN berbasis CBT atau UN tanpa kertas naskah ujian.

Pelaksanaan UN sistem CBT merupakan hasil verifikasi survey kementerian pendidikan yang turun langsung melihat kesiapan sekolah-sekolah tersebut.

Untuk UN hari pertama, UN sistem CBT mengerjakan Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sedangkan untuk SMK melaksanakan UN Matematika dengan dibagi tiga kelompok yaitu, kelompok I, II dan kelompok III. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *