Langsa Fair Sepi Pengunjung, EO Merugi

LANGSA | Dampak Qanun Syariat Islam yang menakutkan bagi Investor untuk berinvestasi, memicu sepinya dukungan di Langsa Fair 2015. Sebelumnya, Langsa Fair diresmikan Gubernur Aceh, Dr Zaini Abdulllah, 20 April lalu.

Langsa FairKEPALA BARESKRIMImbas dari sepinya dukungan baik dari investor dan pengunjung menyebabkan kerugian dari Event Organizer (EO) yang memfasilitsi acara Langsa Fair.

Demikian dikatakan Ketua Panitia Langsa Fair dan juga Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Kota Langsa Drs Abdullah Gade MPd.

Langsa Fair yang diadakan di Komplek Islamic Center Gampong Birem Puntong Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa, telah memasuki hari ke empat masih juga sepi dari para pengunjung. Dan Event Organizer (EO) yang memfasilitasi acara ini terancam merugi, pasalnya dari jumlah stand pameran sekitar 84 hanya 34 yang disewakan.

Event Organizer yang menfasilitasi Langsa Fair ini terancam rugi. Dari jumlah stand pameran yang disediakan sekitar 84, hanya 34 stand saja yang disewa selebihnya kosong.

Sementara itu, pihak EO kepada Wartawan mengatakan terkejut, apa yang terjadi di Langsa Fair tidak sesuai harapan. “Kedepan pasti kami tidak mau lagi memfasilitasi acara-acara seperti ini karena rugi,” ujarnya tanpa ingin menyebutkan namanya, Jumat (24/4).

Lanjutnya, juga stand yang dipamerkan dalam Langsa Fair kurang memikat para pengunjung baik lokal maupun luar daerah, dikarenakan produk unggulan maupun yang lainya sangat minim dipamerkan oleh SKPK Pemko Langsa.

Di tempat terpisah, Ketua Panitia Langsa Fair dan juga Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Kota Langsa, Drs Abdullah Gade MPd yang dikonfirmasi wartawan mengatakan, jumlah stand pameran di Langsa Fair sekitar 84, dengan ukuran besar 34 stand dan ukuran kecil 50 stand, namun untuk ukuran besar berjumlah 34 stand dikhususkan untuk Dinas atau SKPD di wilayah Pemko Langsa. “50 stand lagi disewakan untuk investor luar yang ingin mempromosikan barang-barang meraka,” ujar Abdullah Gade.

Tetapi sayangnya, lanjut Abdullah Gade, hampir 50 stand hingga hari keempat (24 April 2015) semenjak dibuka Gubernur Aceh Dr Zaini Abdullah, masih terlihat kosong alias tidak ada yang sewa.

Harga sewa per stand Rp 4 juta hingga 10 juta. Kalau kita lihat dari harga sewa tidak terlalu mahal, dibandingkan waktu acara stand pameran di Banda Aceh, harga sewanya mencapai Rp 15 juta.

Menurutnya, kenapa sampai saat ini Langsa Fair sepi, seraya menuding qanun syariat islam yang berlaku di Langsa menjadi salah satu penyebab investor tidak mau berinvestasi di Langsa. “Karena mereka (investor) takut dengan qanun seperti pemberlakuan hukuman cambuk,” tegas Abdullah Gade.

“Orang luar melihat kalau di daerah lain banyak tempat wisata, namun disaat dibuka internet, dilihat di Langsa yang nampak orang dicambuk aja,” imbuhnya.

Selain hukuman cambuk, acara hiburan banyak yang dibatasi oleh Dinas Syariat Islam, padahal warga Langsa umumnya haus hiburan. “Saya selaku BPM Kota Langsa berharap supaya ada perbaikan image untuk Kota Langsa, kepada Walikota kita minta bisa menghilangkan image yang menakutkan bagi warga luar yang ingin berinvestor, sehingga Kota Langsa bisa maju dan masyarakatnya sejahtera,” pungkas Abdullah Gade. (man/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *