Lepas Tersangka | Kapolres Nias akan Dipropamkan

MEDAN | Keluarga Lida’aro Zebua (59), warga Desa Boyo, Kecamatan Gunung Sitoli, korban pengeroyokan disertai penganiayaan, Minggu (3/5/2015), meminta keadilan ke Bidang Propam Polda Sumut.

KEPALA BARESKRIMMereka menganggap kasus yang telah dilaporkan ke Mapolres Nias jalan ditempat. Mirisnya lagi, polisi yang telah menetapkan dua orang tersangka dalam kasus tersebut malah dilepas, dan tidak ditahan atas perintah Kapolresnya AKBP Yofie Girianto Putro.

Krisman Zebua (35), warga Desa Boyo, Kecamatan Gunung Sitoli selaku anak korban yang ditemui wartawan di Maoldasu menceritakan bahwa kasus
tersebut sudah dilaporkannya ke Polres Nias sekira tanggal 13 Februari 2015 dengan nomor LP/57/II/2015/NS.

Lanjutnya, dari 4 pelaku yang dilaporkan, polisi akhirnya menetapkan 2 orang tersangka yakni tersangka Medianus Zebua alias Ama Niko (38) dan
Damaiyus Zebua (25) yang keduanya merupakan warga Desa Lolomoyo Tuhemberua, Kecamatan Gunung Sitoli, Kota Gunung Sitoli.

Sementara dua terlapor lagi yakni Syukur Eman Zebua dan Barcelona Zebua belum diperiksa polisi. Namun, anehnya setelah penyidik menetapkan tersangka, malah Medianus Zebua yang diketahui seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bekerja sebagai Kabid Sarana Prasarana Dinas Kota Gunung Sitoli dan adiknya Damaiyus Zebua yang bekerja sebagai guru honorer tersebut, malah dilepaskan polisi begitu saja tanpa alasan hukum yang jelas.

“Alasan penyidik melepas dan menghentikan kasus tersebut tidak jelas, penyidik mengaku bahwa ini perintah Kapolresnya. Ada apa ini? karena
tersangkanya PNS dapat perlakuan istimewa seperti itu,” ujarnya.

Karena Polres Nias berat sebelah dalam menangani proses hukum kasus penganiayaan yang menimpa ayahnya, maka anak korban didampingi beberapa keluarganya mendatangi Poldasu untuk melaporkan Kapolres Nias ke Bidang Propam, namun harapan keluarga korban saat berada di gedung tersebut pupus, karena salah satu petugas piket Bidang Propam Poldasu menyarankan mereka ke Wasidik Ditreskrimum Poldasu.

“Kami rencananya akan melaporkan Kapolres Nias ke Bidang Propam Poldasu, karena telah bertindak sesuka hatinya dalam menyikapi kasus yang menimpa ayah saya. Namun salah satu petugas jaga malah mengarahkan kami ke Wasidik Ditreskrimum Poldasu untuk melakukan gelar perkara terlebih dahulu, dan dari hasil gelar perkara dan ternyata terbukti kasus ini sengaja dihentikan barulah Propam dapat menanganinya,” ujar Krisman yang juga merupakan Ketua LSM Laskar Merah Putih Gunung Sitoli.

Atas arahan personil Propam, lantas keluarga korban langsung melapor ke Wasidik Ditreskrimum Poldasu, dan berdasarkan arahan Wasidik, kasus tersebut akan digelar di Poldasu pekan depan dengan agenda menghadirkan tersangka dan korban.

“Wasidik akan menggelar perkaranya minggu depan, mudah-mudahan jika ditangani Poldasu maka kasus ini dapat secepatnya selesai dan kedua tersangka dapat melanjutkan proses hukumnya,” katanya.

Sementara Ketua LSM Laki Nias, Delisima Nduru yang juga turut mendampingi korban mengatakan bahwa Kapolres Nias AKBP Yofie Girianto Putro dinilai sudah menciderai kepercayaan masyarakat yang meminta keadilan di Polres Nias.

“Sebagai pimpinan di Polres Nias seharusnya dapat membela mana yang benar dan yang salah, dalam kasus ini seharusnya Polres menahan kedua
pelaku walaupun salah satu tersangka merupakan PNS,” sebutnya.

Lanjutnya, bahwa dirinya meminta Kapoldasu segera mengevaluasi Kapolres Nias, atau perlu dicopot dari jabatannya karena dinilai gagal dalam menjalankan tugasnya.

“Tindakan Kapolres Nias ini seharusnya di evaluasi Kapoldasu, karena dinilai bertindak sewenang-wenang dan dapat menimbulkan pesan negatif
ke masyarakat, polisi tidak akan dipercaya lagi untuk meminta keadilan ke pihak kepolisian, oleh karena itu seharusnya Kapoldasu diminta mencopot Kapolres Nias,” pungkasnya.

Kapolres Nias AKBP Yofie Girianto Putro yang dihubungi wartawan melalui telepon seluler terkait kasus tersebut tidak kunjung diangkat, pesan singkat yang dikirim wartawan juga tidak kunjung dibalas.

Sebelumnya, kasus penganiayaan ini bermula ketika dilakukan pesta adat di salah satu rumah warga yang berada di Desa Lolomoyo Tuhemberua Kecamatan Gunung Sitoli Barat, Kota Gunung Sitoli, 13 Februari 2015.

Pada saat itu, karena orang tua kedua tersangka A. Amenesi Zebua (alm) dinilai menyalahi proses adat, lantas korban memberitahukan proses adat yang sebenarnya.

Namun niat baik korban tersebut malah menyulut emosi ayah kedua tersangka, sehingga terjadi perang mulut. Merasa permasalahan ini semakin meruncing, lantas korban memilih untuk meninggalkan proses adat tersebut, namun anak beserta keponakan dari A. Amenesi malah menyerang korban dan memukuli dengan menggunakan kursi dan bambu.

Akibat kejadian tersebut korban langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan kondisi wajah dan punggung memar, kepala bagian belakang bengkak. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *