Pengungsi Rohingya Minta Perhatian PBB

MEDAN | Sholat Qashar (penganti sholat wajib) merupakan tradisi Rohingya asal Bangladesh dan asal Myanmar berdoa. Kegiatan keagamaan itu berlangsung di halaman Wisma Patih Jalan Jamin Ginting Km 95 Kecamatan Medan Tuntungan. Sholat Qashar merupakan kisah perjalanan mereka ke negara Indonesia, (29/5/2015).rohingya medanKEPALA BARESKRIMSetelah Sholat Qashar, salah satu Rohingya asal Myanmar Muhamad Islam membaca kitab suci menyendiri di dalam kamar dengan mengatakan, “Iya.., Allah bukakanlah jalan bagi kami, agar kami bisa pulang ke negara tempat asla kami”.

Sehabis sholat Qashar, beberapa Rohingya melihat salah satu media TV swasta memberikan handphone kepada negara Bangladesh, agar dia bisa berkomunikasi kepada keluarganya di Bangladesh. Dan Rohingya asal Bangladesh dan Myanmar langsung mendatangkan seorang media TV swasta, agar mereka juga bisa berkomunikasi kepada keluarganya.

Selama ini, Rohingya putus komunikasi kepada keluarganya di Myanmar dan Bangladesh. Dari 104 orang Rohingnya asal Bangladesh dan Myanmar di Medan, tidak pernah berkomunikasi kepada keluarga atau sanak saudara mereka. Setiap pendatang ke Wisma Patih, pasti Rohingya meminta bantu kepada pendatang, agar mereka dapat berkomunikasi kepada keluarganya di Myanmar dan Bangladesh.

Di tempat yang sama, International Organization for Migration (IOM) memberikan berupa kesehatan dengan memberikan obat anti kurap dan vitamin. Dan ketika ditanya oleh awak media, IOM tidak berani memberikan komentar dan hanya memberikan izin untuk di foto bukan diminta keterangan, karena IOM tidak berani memberikan komentar kalau tidak ada perintah dari Imigrasi Kelas I Khusus Medan.

Ketika itu, UNHCR datang ke Wisma Patih hanya untuk monitoring dan melihat kondisi pengungsi. Semua pengungsi kita monitoring. Bangladesh ataupun Miyanmar. “Kita hanya melakukan pendataan dan monitoring kepada para pengungsi Rohingya,” kata Perwakilan UNHCR untuk Sumut, Ardhi kepada awak media.

Ardhi mengatakan, pihaknya masih melakukan monitoring dan melakukan pendataan. Monitoring dimaksud untuk mengetahui kondisi pengungsi dan apa saja yang dibutuhkan pengungsi. “Kami ingin hanya tahu dulu kondisi mereka,” ujarnya.

Salah satu pengungsi Rohingya berharap, pihaknya dapat segera diperhatikan oleh PBB. Ahmad mengaku sebagai warga Rohingya yang harus keluar dari negara sendiri, yakni Myanmar karena keselamatan.

Sementara Kepala Imigrasi Kelas Khusus I Medan (Kakanim), Drs Lilik Bambang Lestari saat dihubungi melalui via seluler menjelaskan, Rohingya belum dapat dipulangkan ke negaranya, karena di Myanmar dan Bangladesh belum bisa diketahui, apakah masih aman.

Untuk saat ini, mereka masih diberikan suaka di Medan. Imigrasi terus bekerjasama dengan IOM dan selalu memberikan kesehatan, makanan dan berupa pakaian kepada Rohingya. “Memang UNHCR hanya memonitoring dan mendata Rohingya, bukan mereka yang memberikan makanan dan pakaian” katanya.

Setiap pendatang ke Wisma Patih untuk melihat Rohingya, ada juga masyarakat yang menyumbang berupa pakaian dan makanan. “Justru Rohingya sudah mendapat bantuan dari masyarakat kota Medan atau dari masyarakat luar kota Medan,” ujar Lilik Bambang Lestari.

Setelah awak media menanyakan kepada Kakanim Kelas Khusus I Medan mengenai bantuan dana yang diberikan oleh Kemenkumham kepada Rohingya melalui Imigrasi, Lilik Bambang Lestari mengatakan, dana bantuan dari Kemenkumham tersebut hanya yang disampaikan kepada Dinas Sosial Pemprovsu bukan ada kepada Imigrasi Kelas Khusus I Medan. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *