JANJI DALAM PANDANGAN ISLAM

Catatan: Junaidi

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, janji diartikan dengan “ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat”. Menurut Syaikh Muhammad Abduh, janji adalah “sesuatu yang harus ditepati oleh setiap orang terhadap yang lain, baik kepada Allah, maupun kepada manusia. Janji itu wajib ditepati selama bukan maksiat”.

junaidi-SAgJanji memang ringan diucapkan namun berat untuk ditunaikan atau ditepati. Padahal janji yang telah diucapkan haruslah ditepati karena akan ditanya atau dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-isra’ ayat 34 yang artinya “Penuhilah janji, sesungguhnya janji akan dimintai pertanggungjawabannya”

Menepati janji merupakan kewajiban, perhatikan firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 91 berikut: “dan, tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”

Seruan menepati janji pada ayat tersebut bersifat wajib. Dengan kata lain, orang yang tidak menepati janji tanpa disertai oleh alasan-alasan yang dibolehkan syariat akan mendapatkan dosa. Bahkan, dua dosa. Pertama, dosa terhadap orang yang telah kita berikan sebuah janji yang tidak ditepati. Hatinya akan terluka. Kedua, dosa kita kepada Allah yang menjadi saksi penjanjian antara kita dan orang lain.

Ada enam keuntungan yang dapat dipetik, jika kita menepati janji, yaitu: Pertama: Tergolong orang yang beriman . Menunaikan janji adalah ciri orang beriman, sebagaimana diungkapkan Allah dalam surat Al-Mukminun. Salah satunya yang paling utama adalah mereka yang memelihara amanat dan janji yang pernah diucapkannya. “Telah beruntunglah orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.”

Kedua: Mendapat Cinta Allah. Menepati janji selain tanda dari keistiqamahan, ia juga merupakan tiang dari kepercayaan seseorang. Kalau menepati janji tidak ada, maka istiqamah dan kepercayaan juga tidak ada. Allah SWT berfirman: “(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat) nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.”

Ketiga: Terlepas dari sifat munafik, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari yang artinya: ”Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga macam. Apabila berkata ia dusta, Apabila berjanji ia ingkar, Apabila di percaya ia khianat”.

Keempat: Orang percaya kita. Apabila kita mengingkari janji, maka orang lain akan memandang kita sebagai seorang yang tidak bisa dipercayai alias tidak jujur. Dan pada akhirnya orang akan mengatakan kita sebagai penipu. Oleh sebab itu, peliharalah janji-janji yang kita berikan. Dengan memelihara janji, kita akan meningkatkan kepercayaan orang lain terhadap kita. Dengan membina kepercayaan, sebenarnya kita telah motivasi diri dalam hidup kita.

Kelima: Terhindar dari perbuatan setan. Hal ini karena ingkar janji adalah perbuatan setan untuk mengelabui manusia, maka mereka merasakan kenikmatan manakala manusia berhasil termakan janji-janji kosongnya itu. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa, ayat 120 yang artinya: “Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka”. Oleh sebab itu agar tidak termasuk pada golongan setan, maka hendaklah tepati janji-janji yang pernah kita sampaikan kepada orang lain.

Keenam: Tidak termasuk golongan Yahudi. Hal ini karena ingkar janji adalah sifat Bani Israil. Ingkar janji juga perintah Allah kepada Bani Israil, namun sayangnya perintah itu dilanggarnya dan mereka dikenal sebagai umat yang terbiasa ingkar janji. Hal itu diabadikan di dalam Al-Quran Al-Karim surat Al-baqoroh ayat 40 yang artinya: “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmatKu yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepadaKu, niscaya Aku penuhi janjiKu kepadamu dan hanya kepadaKu-lah kamu harus takut.”

Ketujuh: Menjaga Marwah Diri. Kita akan sedih jika dipanggil atau diberi gelar penipu. Hal ini akan muncul jika kita sering melanggar janji yang pernah kita ucapkan. Oleh sebab itu agar marwah diri kita tidak rusak, maka mari tepati janji-janji kita. ***

(Dosen FAI UMSU)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *