Catatan Kejahatan Seksual Terhadap Anak

logo bareskrimcom, logo bareskrim, bareskrim, bareskrimcom, berita medan, berita sumut, berita sumatera

MEDAN (bareskrim.com) | Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia berada pada titik nadi kejahatan seksual terhadap anak.

KEPALA BARESKRIMKekejaman pelaku seksual telah telah merenggut ratusan ribu korban di seluruh Indonesia, dan terus terjadi setiap harinya.

“Dari catatan kasus kejahatan/kekerasan terhadap anak dan perempuan yang dilaporkan setiap tahunnya, kejahatan seksual merupakan bentuk kasus yang paling tinggi,” kata Direktur Eksekutif Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Misran Lubis, Minggu (15/5/2016).

Sebagai contoh laporan kekerasan terhadap anak yang dilaporkan pada tahun 2015, kata Misran, dari 70 kasus yang dilaporkan sebanyak 51.4% (36 kasus) adalah kekerasan seksual.

Sebagian besar kasus kekerasan yang dialami anak bersifat kekerasan seksual. Sebagian besar kasus kekerasan seksual tidak dapat diproses secara hukum, karena sulitnya alat bukti dalam penyidikan.

“Pembuktian terhadap kekerasan seksual masih fokus pada vagina dari korban kekerasan seksual. Visum yang menunjukkan tidak adanya kerusakan pada vagina, membuat pelaku tidak dapat di proses secara hukum. Padahal, pelecehan seksual tidak selalu membekas secara fisik, namun selalu mengganggu psikis dan mempengaruhi kejiwaan korban,” jelasnya.

Misran menilai, saat ini penegak hukum juga kesulitan untuk membawa pelaku untuk mendapat hukuman yang terberat.

“Membawa pelaku kekerasan seksual untuk mendapatkan hukuman berat atau seumur hidup, sehingga pelaku tidak dapat lagi bersosialisasi dengan dunia luar itu yang sulit. Padahal di negara lain hukuman tersebut telah berlaku,” ucapnya.

Untuk itu, Misran meminta kepada pemerintah dapat menyusun kebijakan-kebijakan yang mempertimbangkan hak anak.

Pemerintah juga harus dapat terus bersosialisasi tentang hak anak dan memantau perlakuan masyarakat agar anak dapat memperoleh hak perlindungan yang setara dengan orang dewasa.

“Penanganan kasus kekerasan terhadap anak harus diawasi terus-menerus oleh segala lapisan masyarakat, dan ditangani secara detail agar tidak terjadi pengulangan dan menimbulkan efek jera bagi pelakunya,” pungkasnya. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *