Mendidik Dengan Keteladanan

Oleh: Mahmud Yunus Daulay, MA

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mendidik adalah dengan memberikan keteladaan/contoh yang baik.

ustad yunus-240x247Rasulullah SAW adalah sosok yang selalu memberikan teladan pada umatnya. Hal ini sebagaimaan firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya: “Sungguh dalam diri Rasululllah SAW terdapat suri tauladan, yaitu bagi siapa yang ingin bertemu Allah dan hari akhir”.

Pepatah mengatakan, ‘Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari’. Pepatah ini memberikan sebuah pemahaman bahwa sebagian besar perilaku seroang murid akan mengikuti gurunya. Oleh sebab itu, guru harus bisa memberikan teladan/contoh yang baik pada murid-muridnya.

Keteladanan adalah sebuah kata yang mudah diucap, namun sulit diterapkan. Setiap orang yang menjadi teladan harus rela berkorban dengan setulus hati dan bersedia menghibahkan dirinya dalam menegakkan kejujuran, kebenaran dan kedisiplinan.

Ibarat lilin yang rela hancur, menerangi kegelapan. Dalam kamus Bahasa Indonesia kata teladan berarti sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh.

Keteladanan adalah sesuatu yang orisinal, indah dan amat sedehana.  Keteladanan hanya bisa dilakukan jika kita memiliki niat semata-mata hanya untuk beribadah, keteladan merupakan panggilan jiwa, komitmen hati nurani, keikhlasan dan kepasrahan yang hanya mengharapkan ridho Allah SWT semata.

Dalam mendidik terkadang kita sering salah kaprah. Sering kita memandang bahwa sekolah atau lembaga pendidikan yang bagus adalah yang memiliki fasilitas yang lengkap. Padahal gedung yang megah, alat peraga yang lengkap, buku yang memadai bukan jaminan untuk menjadikan generasi muda mendatang menjadi generasi yang kuat, generasi yang memiliki budi pekerti luhur, memiliki kejujuran, cinta tanah air, bisa hidup bersama secara damai dalam sebuah bangsa, memiliki semangat kebersamaan senasib sepenanggungan, dan memiliki kompetensi untuk mampu bersaing pada zamannya.

Tetapi yang paling penting adalah penanaman nilai kejujuran untuk membentuk pribadi yang tangguh, pribadi unggul dan bermoral. Kalau kita sepakat menjadikan pendidikan untuk memenuhi harapan di atas, maka jawabannya pengelola pendidikan harus berkomitmen secara bersama-sama menjadi teladan.

Keteladanan memiliki pengaruh yang sangat kuat. Orang bijak mengatakan Satu keteladanan lebih dahsyat pengaruhnya dibanding seribu nasihat. Nasehat tentang kejujuran yang sering diberikan oleh guru tidak akan efektif jika dalam ujian nasional, para murid dihadapkan pada praktek menipu berjamaah. Justeru murid akan menyerap lebih cepat pelajaran tentang korupsi (menipu).

Penutup

Keteladanan bukan saja indah tapi memberi energi yang menguatkan bagi yang meneladani. Keteladanan dan kelembutan bahkan bisa menjadi sumber kekuatan bagi anak. Kehangatan bisa menciptakan ketenangan, kepercayaan dan hubungan batin yang kuat atara guru dengan anak didiknya.

Oleh sebab itu, dalam rangka mengaplikasikan keteladanan dan kelembutan ini guru dan kita semua harus memegang empat hal, yaitu: 1) tidak boleh menyuruh, tetapi mengajak. 2) Tidak boleh melarang, tetapi membiasakan anak mencari solusi. 3) Tidak boleh marah, karena tidak ada konsep salah. 4) Tidak boleh bersuara keras/lantang, karena siswa membutuhkan kelembutan dan kedamaian. Wallahu Alam. (Dosen FAI UMSU)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *