Pemerhati Sosial: Kemiskinan Ada Dimana-mana

KUALASIMPANG (bareskrim.com) | Kemiskinan ada dimana-mana. Inilah bentuk ketidakmampuan manusia memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan dan kesehatan.

“Hal demikian dapat disebabkan kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan seperti saat ini,” kata Bembeng, salah seorang pemerhati sosial di Aceh Tamiang.

Menurut pria yang gemar di bidang pertanian itu, kemiskinan merupakan masalah global, sebagian orang memahaminya secara subjektif dan komparatif, sementara yang lainnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi dari sudut ilmiah yang telah mapan.

Hal itu terjadi, kata Bembeng, tentunya pasti ada faktor-faktor penyebabnya, diantaranya sikap dan pola pikir serta wawasan yang rendah, malas berpikir dan bekerja, kurang keterampilan, pola hidup konsumtif, sikap apatis/egois/pesimis, rendah diri, jurang pemisah antara kaya dan miskin, belenggu adat dan kebiasaan, teknologi baru yang hanya menguntungkan kaum tertentu (kaya), perusakan lingkungan hidup, pendidikan rendah, populasi penduduk yang tinggi, pemborosan dan kurang menghargai waktu, kurang motivasi mengembangkan prestasi, kurang kerjasama, pengangguran dan sempitnya lapangan kerja, kesadaran politik dan hukum, tidak dapat memanfaatkan SDA dan SDM setempat, dan kurangnya tenaga terampil bertumpun ke kota.

Kemudian faktor secara non manusia sebut alumni mahasiswa fakultas ekonomi di Jawa Barat itu faktor alam, lahan tidak subur/lahan sempit, keterampilan atau keterisolasi desa, sarana perhubungan tidak ada, kurang fasilitas umum, langkanya modal, tidak stabilnya harga hasil bumi, industrialisasi sangat minim, belum terjangkau media informasi, kurang berfungsinya lembaga-lembaga desa dan kepemilikan tanah kurang pemerataan.

Terkait angka kemiskinan, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015, menurut Bambang, di Aceh Tamiang sebesar 14,57%. Kondisi kemiskinan ini sebenarnya cukup mengkhawatirkan dan hanya mampu menekan sebesar 1%.

“Seharusnya dengan adanya dana Otonomi Khusus (Otsus) yang sudah diterima namun kemiskinan masih tergolong tinggi sangat tidak sebanding, lagian dana Otsus ada batasnya tidak selamanya,” ujarnya, kemarin.

Bambang menggarisbawahi Satker (Satuan Kerja) Pemda Aceh Tamiang miskin kreatifitas, lebih sering menghabiskan waktu di warung kopi, sehingga tidak maksimal memprioritaskan program yang ditargetkan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Banyak ditemukan pengalokasian dana untuk pengerjaan proyek membangun pagar kantor, pagar kuburan, normalisasi dan yang fatalnya lagi taman kehati yang tidak dilaporkan di dalam LKPJ Bupati 2016 sehingga jadi poin penting LKPJ Bupati ditolak Dewan Aceh Tamiang,” pungkasnya. (wdm/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *