LAPK: Kebocoran Pipa PDAM Rugikan Pelanggan

MEDAN (bareskrim.com) | Pelanggan yang mengeluhkan kualitas air yang kotor dan mati berhari-hari akibat kebocoran pipa yang pecah, hendaknya harus direspon dengan cepat PDAM Tirtanadi untuk memperbaiki dan mencarikan solusi agar berfungsi normal seperti biasa.

Tentu, kebocoran pipa yang terjadi sangat merugikan pelanggan, karena sangat disayangkan dalam kondisi normal saja pelayanan PDAM Tirtanadi masih buruk, sehingga hujatan pelanggan bertubi-tubi di media sosial, apalagi dalam rentang sebulan terjadi 2 kali pipa pecah tentu akan membuat pelanggan semakin menderita.

“Saluran pipa yang pecah harusnya diperbaiki sesegera mungkin, bukan malah menjadi alasan berkeluh kesah kepada pelanggan untuk menutupi kegagalan PDAM Tirtanadi memenuhi standar pelayanan selama ini, termasuk respon mengatasi masalah gangguan distribusi air,” kata Sekretaris Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK), Padian Adi S Siregar, dalam pesan elektroniknya.

Menurut Padian, idealnya dengan kondisi pipa distribusi yang sudah tua dan kropos warisan peninggalan Belanda, secara bertahap harus diganti sehingga PDAM Tirtanadi tidak berkutat menunggu pipa yang ada kapan pecaha.

Selain itu, PDAM Tirtanadi harus menyediakan cadangan pipa yang dapat digunakan sewaktu-waktu jika terjadi kebocoran dan pecah pipa, tanpa harus menunggu pemesanan kepada produsen.

“Pelanggan tidak boleh dibiarkan menerima alasan PDAM Tirtanadi untuk bersabar dengan kualitas pelayanan yang tidak maksimal sepanjang menunggu pesanan pipa pengganti yang pecah datang. Tentu PDAM harus mencarikan solusi agar distribusi air kepada pelanggan tetap berjalan, apakah menurunkan mobil tangki air di kawasan tertentu atau memberikan suplai air dari IPA yang ada,” cetusnya.

Sesungguhnya PDAM Tirtanadi sedang membuka borok sendiri ketika beralasan pipa yang pecah harus menunggu ditempah, karena penyertaan modal yang selama ini diberikan Pemprovsu kemana bocornya karena kualitas infrastruktur pipa saluran air bukan malah membaik malah secara bergiliran mengalami kebocoran dan pecah.

Penyelesaian PDAM Tirtanadi menyelesaikan keluhan pelanggan tidak profesional, karena PDAM Tirtanadi tidak punya alternatif untuk mengatasi masalah yang tiba-tiba terjadi pipa yang pecah atau bocor selain menunggu rusak dulu baru pipanya ditempah. Selain itu, ada kesan acuh tak acuh terkait keluhan pelanggan dan memaksa pelanggan untuk bersabar menerima alasan yang disampaikan.

Petinggi PDAM tidak menjadikan pelanggan sebagai aset dan acuan dalam menjalankan pelayanan, tetapi terkesan indikator pelayanan itu adalah Gubsu. Ketika Gubsu tidak melakukan evaluasi kepada PDAM Tirtanadi maka bagi Petinggi PDAM tidak ada masalah, walaupun kualitas air keruh dan aliran air mati. (rel/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *