Oknum Preman Jadi Sopir Taksol | Ancaman Kejahatan Baru di Medan

MEDAN (bareskrim.com) | Peristiwa pengeroyokan, penganiayaan dan intimidasi yang dilakukan sejumlah sopir taksi online di bawah bendera Go-Car terhadap Teuku Yudhistira, seorang Pemimpin Redaksi Harian lokal di Medan, 6 Maret 2018, terus berbuntut panjang.

Hari ini, Rabu (7/3/2018), kasus yang sebelumnya ditangani Polsek Medan Baru, akhirnya diambil alih Polrestabes Medan, sesuai perintah Wakapolda Sumut Brigjen Agus Andrianto kepada Kapolrestabes Medan Kombes Dadang Hartanto.

“Ya saya hari ini pemeriksaan di ambil alih. Makanya saya bersama istri dan mertua hari ini datang ke Mapolrestabes untuk melanjutkan memberikan keterangan,” ungkap Yudis sesaat sebelum memasuki ruang pemeriksaan di lantai 2 Unit Pidana Umum (Pidum).

Ia juga berharap agar kasus ini bisa diusut tuntas. “Saya berharap pihak kepolisian bisa menindak tegas para pelaku yang telah mengeroyok, menganiaya dan melakukan pengancaman akan membunuh saya segera ditangkap dan ditindak tegas. Ini jelas ancaman serius bagi Kota Medan” harapnya.

Sementara, menanggapai masalah ini, Ketua Pemuda Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Sumut Ahmad Ibrahim Hutasuhut mengecam keras tindakan brutal ala preman yang dipertontonkan para driver (sopir) taksi online, di tengah konflik mereka dengan angkutan umum.

“Ini jelas sangat meresahkan bagi kita masyarakat yang merupakan konsumen. Tingkah driver sarana transportasi yang harusnya memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat, kok akhir-akhir jadi semakin brutal,” kecam Hutasuhut.

Ironisnya, lanjutnya, hal itu terjadi di saat persoalan keberadaan taksi online yang ditolak oleh seluruh pengemudi dan pengusaha angkutan umum, belum terselesaikan.

“Keributan antara pengemudi konvensional dengan online saja sudah sangat mengganggu kamtibmas di Medan. Dengan kejadian yang dialami Pemred Orbit ini jelas menjadi ancaman kejahatan baru di Medan. Sudah tak bisa dibiarkan,” tegasnya.

Karena itu, Hutasuhut pun mengecam keras sikap perusahaan taksi online khususnya Go-Car yang terkesan hanya mengejar keuntungan semata dengan cara hanya mementingkan banyaknya driver, sehingga banyak yang mengunggah aplikasi, sementara mereka tidak mementingkan latar belakang mitra mereka.

“Ya begini hasilnya, kalau siapapun bisa jadi mitra, konsumen pun terancam. Karena itu saya minta pemerintah khususnya Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan di Sumut, bisa mengambil langkah tegas dalam masalah ini. Tegakkan benar-benar Permenhub 108 itu, biar lebih selektif yang laik jadi driver,” pungkasnya. (rel/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *