Polda Sumut Ciduk Dua Oknum Polisi Terlibat Sindikat Nova Zein

MEDAN (bareskrim.com) | Dua personel Polri masing-masing bertugas di Bidang Propam Polda Aceh dan di Polres Serdang Bedagai (Sergai) diciduk petugas Subdit III/Umum Ditreskrimum Polda Sumut, bersama dua warga sipil lainnya.

Keempat pria tersebut diduga terlibat dalam sindikat penipuan dan penggelapan mobil mewah yang ‘diotaki’ tersangka Nova Zein. Petugas juga mengamankan tujuh unit mobil.

“Dari pengembangan kasus penggelapan mobil tersangka NZ, kita kembali menangkap empat tersangka baru dan mengamankan tujuh unit mobil,” ujar Direktur Reskrimum Polda Sumut, Kombes Andi Rian didampingi Wadir, AKBP Andri Setiawan, dan Kanit Jahtanras, Kompol Anjasmara, Senin
(12/3/2018).

Dijelaskan Andi, dua dari empat tersangka, yakni AN dan NO merupakan anggota Polri. AN personel Bidang Propam Polda Aceh, sedangkan NO, anggota Polres Sergai. Sementara dua tersangka lainnya, warga sipil, Jefri warga Sei Mencirim, Sunggal Deliserdang dan Dedi Aceh, warga
Tembung, Deliserdang.

Keempat tersangka yang baru ditangkap tersebut, berperan sebagai pengedar atau penjual mobil mewah rentalan yang telah digelapkan Nova Zein dari pemiliknya dengan harga ratusan juta rupiah. Untuk Toyota Fortuner VRZ, dijual Rp 190 juta.

“Mereka ini berperan sebagai pengedar atau perantara jual dengan komisi antara Rp 1 – Rp 3 juta. Sampai sekarang sudah 11 unit mobil hasil penggelapan NZ yang kita sita dari Aceh, Riau dan Sumatera Barat (Sumbar),” ungkap Andi.

Ke 11 mobil tersebut terdiri 4 unit penangkapan sebelumnya, diantaranya, Toyota Alphard, Innova, Pajero Sport. Sedangkan 7 unit yang menyusul pada penangkapan 4 tersangka baru, yakni 3 Fortuner, 2 Innova dan 2 Toyota Avanza.

Dia mengungkapkan, dalam kasus yang melibatkan NZ, pihaknya telah
menangani delapan Laporan Polisi (LP), termasuk dugaan penipuan dan penggelapan uang. Untuk kasus penipuan dan penggelapan mobil, berdasarkan LP tersebut, diketahui sebanyak 76 unit mobil korbannya telah dijual kepada penadah dengan harga bervariasi. Saat ini, penyelidik tengah memburu 65 unit mobil lagi di lapangan. “Kita masih terus mengembangkan kasus ini, mungkin masih ada tersangka lain,” terangnya.

Seorang tersangka menjawab Direktur Reskrimum Polda Sumut, Kombes Andi
Rian menyebutkan, praktik penjualan mobil mewah rentalan tersebut dengan cara meyakinkan para pembeli atau penadah, tidak ada masalah. Segala urusan kepemilikan kendaraan dan dokumennya bisa langsung
berhubungan dengan NZ.

“Kita hanya ngomong sama pembelinya tidak ada masalah, dan kalau urusan STNK atau surat-suratnya bisa berhubungan langsung dengan Nova Zein,” beber seorang tersangka.

Dalam kaitan itu, Andi Rian mengimbau, kepada para pembeli atau penadah mobil yang pernah berurusan dengan tersangka Nova Zein untuk segera berkoordinasi dengan pihak Subdit III/Umum Ditreskrimum Polda Sumut.

“Lebih baik dia (penadah, red) datang ke kita bertemu dengan penyidik, dari pada nanti tertangkap di jalan. Kita tunggu itikad baik para pembeli mobil dari NZ itu,” imbau Andi.

Sebelumnya, mengatasnamakan anggota badan organisasi sayap dunia PBB (United Nation) membidangi sektor perempuan, Nova Zein (33), warga
Kompleks Perumahaan Graha Johor Blok B Nomor 7 Kecamatan Medan Johor, ditengarai telah menjual lebih dari 67 unit mobil mewah yang direntalnya.

Selain Nova Zeein, polisi juga menangkap tiga tersangka lain masing-masing UG sebagai sopir, sekretarisnya inisial KB alias C dan agen penjualan inisial HP. Jumlah tersangka masih bisa bertambah, karena penadahnya belum ditangkap.

Polda Sumut sudah menerima belasan laporan korban. Penyelidikan dan penyidikan polisi, yayasan Sumatera Women Foundation yang digunakan
tersangka untuk menipu para korbannya, ternyata lembaga fiktif alias ilegal.

“Sampai saat ini pelaku tidak bisa menunjukkan akte pendiriannya
(lembaga, red). Jadi bisa dibilang ilegal,” tegas Andi Rian.

Modus penipuan dan penggelapan ini, terang Andi, Nova Zeein membuat
perjanjian dengan korban untuk memperoleh kendaraan operasional. Untuk memuluskan aksinya, komplotan ini membawa-bawa nama lembaga sayap dunia PBB. (amri/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *