DKSU Ajak Penggiat Film Daerah Bersinergi Majukan Perfilman Sumut

MEDAN (bareskrim.com) | Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU) sangat mengapresiasi gelaran Pemutaran dan Diskusi Film yang dilakukan Layar Indie Project di Warung Ranggi 22, (31/3/2018).

Dalam kegiatan yang berlangsung seiring menyemarakan Hari Film Nasional ke 68, dilakukan pemutaran empat judul film pendek racikan sutradara muda asal Medan, yakni film Sang Kurir disutradrai oleh Acid dan Robby, Blinedog oleh Fajar, Freedom oleh Angga DS dan Sangkala oleh Iebie Loco.

“Saya sangat terkesan berada di acara ini. Kiranya ini bisa berkesinambungan dan kita bisa saling bersinergi dalam membangkitkan perfilmaan di Sumatera Utara (Sumut). Ini baru kali pertama buat kegiatan aja bagus, apalagi ke dua, ke tiga dan seterusnya pasti lebih bagus lagi,” motivasi Ketua Komite Film Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU), Onny Kresnawan dalam pesan elektroniknya, Minggu (1/4/2018).

Menurut Onny, sebelumnya Komite Filme sudah berkoordinasi dengan Ketua Umum DKSU, Baharudin Saputra SH terkait dibuat tempat khusus pemutaran film di ‘markas’ DKSU. “Silahkan kawan-kawan melakukan kegiatan bersama di sana (DKSU). Tempatnya refresentatif dan nyaman. Tinggal kita set panggung sesuai kebutuhan saja,” kata Onny menitipkan pesan Ketum DKSU yang disambut tepuk tangan hadirin.

Pada kesempatan berbicara seusai nonton bareng itu, Onny yang juga didampingi Sekretarisnya, Ilhamsyah menyebutkan, salah satu program kerja ke depan Komite Film tengah mempersiapkan Fasilitasi Produksi Film Pendek bagi komunitas film di Sumatera Utara.

Fasilitas itu bisa berbentuk dana, pendampingan tenaga professional atau alat perlengkapan standart produksi film. “Tentu terlebih dahulu kita (DKSU) akan lakukan seleksi, siapa yang paling terbaik ajuan cerita, ide dan gagasan filmya, maka dia yang berhak menerima falisilitasi produksi. Dengan demikian, nantinya kita punya karya film berkualitas dari sineas di daerah. Untuk itu, doakan ya supaya kami juga bisa berhasil mendorong biaya anggaran program demi kemajuan perfilman di daerah ini,” kata Onny yang kini tengah persiapan menyudtradarai film layar lebar Haji Asrama atau HAS.

Selain itu, Onny juga menyatakan rasa salut dan takjub akan perkembangan sineas daerah, baik itu secara kuantitas maupun kualitas berkaryanya. “Meski begitu, kita harus punya resep malu pada setiap karya kita sebelumnya, agar karya berikutnya bisa menjadi koreksian lebih baik,” papar Onny yang beberapa kali pernah mendapat penghargaan film namun tetap saja merasa malu bila menonton ulang karya nya.

Onny menambahkan, resep malu itu agar bisa menghindar dari kepongahan dan justru memotivasi diri agar karya berikutnya bisa lebih baik.

Pada kegiatan Pemutaran dan Diskusi Film tersebut suasananya tampak hangat meski sempat hujan turun di awalnya. Dari 50 kursi yang disediakan terisi penuh bahkan harus menyediakan kursi tambahan.

Disamping dihadiri beberapa komunitas dan pegiat film, mahasiswa, dosen, pelajar dan jurnalis juga hadir. Suasana makin seru ketika Dr Daniel Irawan sebagai kritikus film tampil pada sesi bedah film masing-masing sutradaranya.

Lebih jauh Daniel mengingatkan agar para sineas daerah lebih banyak nonton yang bermutu agar bisa belajar demi meningkatkan kualitas karyanya. (rel/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *