Prilaku Aneh Kompol Fahrizal Suka Pukul Tembok dan Benturkan Kepala ke Dinding

MEDAN (bareskrim.com) | Selama menjalani penahanan di Ditreskrimum Polda Sumatera Utara (Sumut), Kompol Fahrizal (41) cenderung menunjukan perilaku aneh dan tidak biasa.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumut, Kombes Andi Rian mengatakan, mantan Kasat Reskrim Polresta Medan tersebut memiliki kebiasaan memukul tembok hingga membenturkan kepalanya sendiri ke dinding sel.

“Kalau di sel kita, sudah mulai ada kecenderungan sikap tidak kooperatif. Dia suka pukul-pukul tembok, dan juga kepala dibenturkan ke dinding,” ungkap Andi Rian kepada wartawan, Jumat (20/4/2018).

Kata Andi Rian, sikap tak biasa Kompol Fahrizal itu menjadi salah satu pertimbangan untuk merujuknya ke Rumah Sakit Jiwa Prof Dr M Ildrem di Jalan Tali Air, Medan. Selain dinilai membahayakan dirinya sendiri, juga dikhawatirkan akan membuat takut tahanan lainnya.

“Dia sudah menunjukkan sikap yang membahayakan untuk orang lain, termasuk dirinya sendiri. Karena memang di sana (RS Jiwa) lebih aman buat dia. Kalau di sel kita, udah ada kecenderungan tidak kooperatif,” sebut Andi Rian.

Sikap aneh Kompol Fahrizal ini, kata Andi Rian, informasinya diperoleh dari tahanan lain yang melapor ke petugas jaga. Kompol Fahrizal juga menolak kedatangan tenaga kesehatan yang hendak memeriksanya.

“Justru tahanan lain menginformasikan ke petugas jaga yang piket. Tenaga kesehatan datang, tapi ditolak sama dia. Dia tidak mau diberi obat, dan dicek. Sejauh ini belum bisa diambil keterangannya, karena kondisinya seperti itu. Jadi belum ada konsistensi dalam menjawab penyidik,” paparnya.

Untuk menanganinya, tambah Andi Rian, tim Mabes Polri, juga telah melakukan observasi awal kepada Kompol Fahrizal. Dari saran Tim Mabes Polri itu lah, maka Polda Sumut melakukan permintaan visum et revertum psikiatrikum. Untuk menyusun visum ini, dibutuhkan observasi selama 14 hari di RS Jiwa oleh tim internal dan eksternal.

“Itu jelas depresi. Tapi itu observasi awal, walaupun tidak bisa kita jadikan dasar karena kita belum minta visum. Yang bisa menjadi dasar untuk masuk ke dalam berkas perkara setelah observasi 14 hari. Diobservasi awal ada beberapa kesimpulan sehingga mereka sarankan untuk membuat visum itu,” terangnya.

Kompol Fahrizal akan diobservasi di RS Jiwa selama dua pekan, tapi bisa juga lebih jika kondisinya mengharuskan.

“Apakah nanti dia lebih lama di sana (RS Jiwa) tergantung kondisinya. Kita berharap dia membaik. Kalau di tahanan kan terbatas, tapi di RS Jiwa fasilitas lebih lengkap,” tandasnya

Seperti diketahui, Kompol Fahrizal menembak mati adik iparnya Jumingan (33), di rumah orangtuanya di Jalan Tirtosari Gang Keluarga, Kelurahan Bantan, Kecamatan Medan Tembung, Sumut, (4/4/2018).

Tersangka meletuskan senjata sebanyak enam kali hingga korban tewas bersimbah darah. Jasad Jumingan kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Medan untuk otopsi. Kemudian Fahrizal menyerahkan diri. (amri/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *