Inilah Pernyataan Sikap DEMA-UINSU Terkait Teror Bom di Indonesia

MEDAN (bareskrim.com) | Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Sumatera Utara (DEMA-UINSU) mengutuk dan mengecam aksi teror yang telah merenggut banyak nyawa, baik itu dari sipil, aparat dan juga dari pelaku teror itu sendiri.

Selain meninggalkan banyak dampak secara fisik, insiden teror yang terjadi di Mako Brimob di Depok Jawa Barat;
Teror Bom Tiga Gereja di Surabaya; Teror Bom di Rusunawa Wonocolo Sidoarjo; Teror Bom di Mapolrestabes Surabaya; dan serangan teroris di Mapolda Riau, telah meninggalkan dampak psikis bagi keluarga korban teror tersebut.

Selain itu, dampak dari serangkaian teror yang dilakukan oleh teroris tersebut, juga menghasilkan rasa ketidaknyamanan dan ketakutan akan munculnya teror – teror lain , kapan pun dan dimana pun yang mungkin tidak ada yang mengetahuinya.

“Teror tersebut juga akan menjadi indikator penurunan kepercayaan investor asing yang akan berinvestasi dikarenakan faktor keamanan bangsa yang sudah status ‘Siaga Satu’. Sebagai bagian dari aset bangsa, kami sebagai putera dan dan putri bangsa ini yang tergabung dalam Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Sumatera Utara (DEMA-UINSU) tentu sangat mendukung pemerintah dalam hal pemberantasan terorisme yang ada,” kata Ahmad Tamami Sahnan Afriansyah selaku Koordinator Aksi ketika berorasi di Bundaran SIB.

DEMA-UINSU juga mempertanyakan kenapa aksi teror yang terjadi dalam waktu beruntun ini bisa terjadi begitu saja? “Ada apa dengan aparat negara ini? Kenapa tidak bisa memberikan kenyamanan buat masyarakat? Sama – sama kita ketahui saat ini Korps Bhayangkara dinakhkodai oleh Jenderal Pol Tito Karnavian yang merupakan sosok yang sangat mengetahui seluk beluk terorisme, beliau juga merupakan salah satu Front Man dalam Pendirian Detasemen Khusus 88 (Densus 88), beliau juga pakar terorisme? Kenapa Densus 88 juga kerap salah tangkap dalam penggerebekan terhadap terduga teroris? Kenapa Kapolri Tidak bisa memberi rasa aman? Kenapa Mabes Polri juga belum bisa mengusut tuntas kasus Penyiraman Air Keras yang diterima Novel Baswedan? #KamiMenolakLupa,” teriaknya.

Begitu juga halnya dengan Badan Nasional Penanggulan Terorisme (BNPT) yang dipimpin oleh Komjend. Pol Suhardi Alius. “Harusnya BNPT menjadi tonggak awal dalam penanggulangan permasalahan Terorisme, kenapa BNPT bisa kecolongan? Kalau BNPT bisa kecolongan bagaimana dengan nasib rakyat yang tidak mengetahui soal terorisme lalu menjadi korban? Kenapa tidak ada pendeteksian dini agar berbagai teror tidak kembali terjadi?” ucapnya.

DEMA-UINSU juga ingin mempertanyakan tentang isu yang berkembang di sosial media soal adanya Islamophobia? Kenapa yang bercadar dan yang menggunakan celana gantung diidentifikasi sebagai teroris? Bukan kah teroris itu tidak mengenal agama apapun?

“Kami (DEMA-UINSU) juga menilai Badan Intelijen Negara (BIN) kurang begitu optimal dalam mengantisipasi akan terjadinya serangkaian serangan teror yang dilakukan oleh teroris tersebut? Bukankah salah satu tupoksi Badan Intelijen Negara (BIN) menurut (Pasal 4 UU No. 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara) adalah sebagai pendeteksi dini dan pengumpul informasi adanya indikasi berbagai ancaman yang dilakukan oleh pihak – pihak tertentu, baik dari dalam maupun dari luar negeri?” tanya massa.

Berdasarkan hal tersebut diatas, Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Sumatera Utara (DEMA-UINSU) menyatakan sikap mengutuk setiap tindak pidana terorisme, baik yang bersifat ideologis maupun bersifat teror.

“Mendukung penumpasan tindak Pidana terorisme yang dilakukan pemerintah; Meminta aparat penegak hukum agar lebih profesional dalam menjalankan tugasnya, tidak ada diskriminasi terhadap pengguna cadar ataupun para pengguna pakaian yang identik dengan sebuah agama,” tegasnya.

Mahasiswa juga menolak dengan keras penggunaan Al Quran sebagai barang bukti dalam penggerebekan terduga teroris. (rel/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *