Kali Ini Mahasiswa Kampus Akademi Komunitas Aceh Tamiang Ngadu Soal Beasiswa

ACEH TAMIANG (bareskrim.com) | Permasalahan yang menimpa Kampus Akademi Komunitas Aceh Tamiang terus bergulir. Kemarin Kantor AWDI ramai didatangi oleh tenaga pengajar yang belum dibayarkan honor mengajarnya selama 2 semester.

Hari ini, (20/10/2018), kantor AWDI yang berlokasi di Desa Terban Kecamatan Karang Baru kembali diramaikan oleh beberapa perwakilan mahasiswa dari kampus Akademi Komunitas Aceh Tamiang.

Kehadiran beberapa perwakilan mahasiswa untuk ‘mengadukan’ soal beasiswa yang tak diterima mahasiswa. Mereka (mahasiswa) meminta agar AWDI bisa memediasi bertemu Bupati Aceh Tamiang untuk melaporkan terkait beasiswa yang bersumber dari dana APBK Aceh Tamiang.

Kehadiran perwakilan mahasiswa ini diterima oleh Ketua AWDI DPC Aceh Tamiang DM Rizal dan beberapa awak media yang tergabung dalam organisasi ini termasuk para penasehat AWDI yang kebetulan sedang berada di kantor AWDI.

Menurut perwakilan mahasiswa kepada Ketua AWDi yang tidak ingin dipublikasikan identitasnya menjelaskan, awal mereka masuk kuliah semua dijanjikan gratis tapi ternyata gratisnya biaya kuliah tersebut akan diambil dari beasiswa yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dengan melengkapi beberapa berkas, seperti kartu keluarga dan surat keterangan ridak mampu dari desa.

Saat ditanya oleh DM Rizal terkait jumlah dan mekanisne pengajuan beasiswa tersebut, pihak mahasiswa hanya mengumpulkan berkas yang dipersyaratkan. “Kami tidak tahu berapa rupiah kah besaran uang beasiswa yang kami terima itu. Saat menandatangani berkas beasiswa itu, seingat saya tidak ada nilai rupiahnya, hanya nama-nama peserta penerima beasiswa yang tercantum,” ucap salah seorang mahasiswa.

“Kami juga mengeluhkan biaya yang harus kami keluarkan untuk ikut seminar dan sidang tugas akhir serta wisuda di Bogor sebesar Rp 4.030.000, dan itu belum termasuk uang makan dan saku kami selama 17 hari di Bogor.
Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya orangtua kami untuk mendapatkan uang sebesar itu yang sudah jelas kami dari keluarga yang kurang mampu, kuliah pun juga harus pakai surat keterangan kurang mampu dari Desa.”

Melanjutkan ceritanya, narasumber mengatakan, diakhir – akhir hari keberangkatan ke Bogor yang dijadwalkan (22/10/2018), masih ada teman kami yang belum memberikan jawaban ikut berangkat atau tidak ke Bogor untuk tugas akhir kuliahnya, dikarenakan ketiadaan dana keberangkatan yang sudah ditentukan oleh pihak kampus. (wdm/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *