Panwas: Kaum Perempuan Rentan Pelanggaran Pemilu

ACEH TAMIANG (bareskrim.com) | Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Kabupaten Aceh Tamiang melaksanakan sosialisasi tentang pengawasan Pemilu pada kaum perempuan, berlangsung di Aula Hotel Morilisa Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang, (6/3/2019).

Koordinator Divisi Pencegahan dan Hubungan Antar Lembaga Panwaslih Aceh Tamiang, Lindawati MPd menyampaikan, berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) jumlah pemilih perempuan lebih dominan dari pada pria, dan menjadi pemilih potensial bagi kandidat untuk mendulang suara.

“Sosialisasi ini merupakan komponen penting bagi perempuan untuk mengawasi pemilu, bentuk-bentuk pelanggaran dalam pemilu, dan ini yang disebut pengawasan partisipatif,” katanya.

Lindawati menambahkan, dalam Pemilu, perempuan adalah kelompok paling rentan atas pelanggaran, seperti money politik dengan pemberian uang atau barang, baik secara personal atau kelompok-kelompok perempuan, seperti kelompok arisan ibu-ibu, group rebana, wirid Yasin dan pengajian.

“Kami (Panwas) mengajak kaum perempuan, untuk ikut berperan aktif dalam pemilu, tidak sekedar jadi pemilih semata, tapi ikut mewujudkan pemilu yang jujur, adil, bermartabat dan berpihak kepada kepentingan perempuan, dengan cara menolak segala bentuk money politik, black campain, intimidasi, kekerasan serta penyebaran hoaks,” ucapnya.

“Perempuan juga diharapkan dapat mensosialisasikan tentang pemilu yang bersih, serta mau mengawasi dan melaporkan jika menemukan pelanggaran. Perempuan juga harus menyadari bahwa mereka paling berisiko, paling berat menanggung beban, jika kedepan ada kebijakan-kebijakan Pemerintah yang tidak berpihak terhadap hak dan kepentingannya. Oleh karenanya, perempuan harus aktif dalam pemilu, tidak tergabung pada Golongan Putih (Golput) dan teliti dalam memilih calon sesuai dengan hati nuraninya,” cetusnya.

Lindawati juga memandang, kaum perempuan adalah salah satu mitra strategis dalam pengawasan pemilu, terlebih lagi perempuan hari ini dengan istilah “mother-mother zaman now” sudah paham akan teknologi, aktif di media sosial, bersosialita, serta kritis atas perkembangan yang ada. (wdm/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *