Asian Agri: Komoditas Kelapa Sawit Nasional Terus Diserang Pihak Luar

MEDAN (bareskrim.com) | Industri kelapa sawit merupakan komiditas primadona di Indonesia. Namun, perkembangan komoditas ekspor ini, disayangkan terus diserang oleh pihak luar. Banyak isu negatif digulirkan, mulai dari deforestasi hingga tuduhan praktik perkebunan yang tidak ramah lingkungan.

Isu negatif yang digulirkan tersebut, dirasa sangat perlu ditangkal. Sebab, kelapa sawit justru lebih efisien dalam hal penggunaan lahan dibandingkan komoditas minyak nabati lain.

“Kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang paling produktif dan efisien dalam hal penggunaan lahan. Maka sepatutnyalah perusahaan kelapa sawit, termasuk Asian Agri memberikan gambaran secara terbuka (transparan) dan obyektif mengenai upaya-upaya yang telah dilakukan dalam kerangka keberlanjutan,” ujar Ir Supriadi Perwakilan Manajemen Asian Agri, kepada awak media di Uniland, Kamis (9/5/2019).

Turut hadir manajemen Asian Agri, diantaranya Hadi Susanto (Head Common Services Asian Agri), James Sembiring (Head Mill & Engineering Asian Agri), Ariston Noverry Fau (Head Social Security & License Asian Agri), Maria Sidabutar (Head Corp Comm Asian Agri), Lidya Veronica (Humas Asian Agri), serta Ketua PWI Sumut Hermansyah, pengurus PWI Sumut dan para Pimpinan Redaksi baik media cetak, elektronik dan online maupun para wartawan.

Uni Eropa, lanjut Supriadi, perlu mengkaji kembali apakah tuduhan bahwa kelapa sawit adalah penyebab deforestasi memiliki dasar. Data dari Oil World 2018, total luas secara keseluruhan produsen minyak nabati global adalah 290 hektar dengan angka produksi minyak nabati sebesar 221 juta ton.

Sementara, kelapa sawit hanya menggunakan lahan sebesar 7 persen. Sementara kedelai 43 persen, biji kapas 12 persen, biji rapa 11 persen, bunga matahari 9 persen dan sisanya tumbuhan minyak nabati lainnya 20 persen.

“Terkait dengan keberlangsungan lingkungan, proses regenerasi (replanting) pohon kelapa sawit dilakukan sekali dalam kurun waktu 25-30 tahun. Sementara tanaman semusim penghasil minyak nabati lainnya, seperti
bunga matahari; kedelai; dan jagung; diregenerasi antara 3-6 bulan. Dengan demikian, kelapa sawit tentunya
lebih ramah lingkungan,” jelas supriyadi.

Asian Agri, terangnya, tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan. Dimana mereka berupaya meningkatkan produktivitas tanpa perluasan lahan baru, dan melanjutkan Program Kemitraan Asian Agri Berbasis Intensifikasi.

One to One

Pada pertengahan tahun 2017, Asian Agri menegaskan komitmennya untuk menjalin kemitraan dengan para petani Indonesia melalui Komitmen Kemitraan Satu Banding Satu atau lebih dikenal dengan sebutan ‘One to One Partnership Commitment’.

“Melalui ini, kami (Asian Agri) bertekad mewujudkan pengelolaan 1 hektar lahan petani sebanding dengan 1 hektar lahan inti Asian Agri yang terdiri dari 60 ribu hektar kebun petani plasma dan 40 ribu hektar kebun petani swadaya. Alhamdulilah, pada akhir tahun 2018, Asian Agri berhasil melampaui target awal Kemitraan One to One yang semula 40 ribu hektar lahan petani swadaya menjadi seluas 41 ribu hektar,” bebernya.

“Terima kasih kepada sahabat-sahabat insan pers yang terus menyampaikan informasi positif tentang Kemitraan, pentingnya memperhatikan keberlanjutan, sertifikasi dan peremajaan bagi industri kelapa sawit Indonesia,” imbuhnya.

Bermitra dengan petani, memungkinkan Asian Agri untuk membantu mengoptimalkan hasil panen sekaligus memberikan pembinaan dan pelatihan agar petani mitra dapat mengelola perkebunan dengan cara yang berkelanjutan dan lebih produktif.

Pemanfaatan Limbah

Menyikapi tudingan praktik perkebunan yang tidak ramah lingkungan, Asian Agri
juga mengambil peran dalam bio-ekonomi dengan memanfaatkan limbah padat dan cair – sisa olahan kelapa sawit.

Dari proses pengolahan tandan buah segar (FFB) menjadi minyak sawit (crude palm oil/CPO) akan juga menghasilkan limbah padat berupa cangkang (shell), serabut (fiber) dan tandan kosong sawit (EFB). Setengah dari jumlah limbah padat tersebut merupakan tandan kosong sawit.

Jumlah yang sangat besar bila mengingat jumlah buah sawit segar yang diolah terus meningkat dari waktu ke waktu. Demikian pula kapasitas dari industri pengolahan minyak sawitnya. “Maka setidaknya saat ini terdapat potensi limbah yang siap untuk dimanfaatkan menjadi berbagai produk yang bernilai ekonomi tinggi. Satu di antaranya adalah bio-pellet –yang juga dapat diberikan kepada petani mitra kami yang mengusahakan budidaya sapi,” urai Supriyadi.

Pemanfaatan limbah tandan kosong sawit, yakni dengan mengirimkan kembali tumpukan limbah tersebut ke areal perkebunan dan menggunakannya sebagai mulsa dan pupuk alami. Sedangkan terobosan baru yang juga dilakukan Asian Agri yaitu, memanfaatkan limbah cair – Palm Oil Mill Effluent – untuk menghasilkan energi alternatif yang ramah lingkungan.

“Langkah nyata kami untuk mengurangi pemanasan global dan perubahan
iklim yang disebabkan oleh emisi dari bahan bakar fosil. Pengelolaan limbah cair Palm Oil Mill Effluent (POME), sebelumnya dimanfaatkan hanya untuk land application sebagai substitusi pupuk; menjaga kelembaban tanah; dan menahan erosi di kebun sawit,” urainya.

“Dari beberapa hal yang kami sampaikan, pada intinya Asian Agri akan fokus untuk menjaga produksi yang berkualitas, serta memastikan kegiatan terlaksana secara efisien dan optimal dengan berorientasi pada keberlanjutan. Dan untuk mewujudkan rencana dan komitmen tersebut, kami berharap sahabat-sahabat kami, insan pers Sumatera Utara akan terus mendampingi, mendukung dan mengingatkan kami akan keberlanjutan industri kelapa sawit yang kita cintai bersama,” tandas Supriadi. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *