GMKI Medan Berupaya Cetak Pemuda Antikorupsi

MEDAN (bareskrim.com) | Maraknya pejabat maupun pegawai terjerat kasus korupsi, menjadi perhatian serius dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Medan.

Ironis memang dengan semakin sedikit generasi muda yang peduli soal itu, sehingga mendorong GMKI membuat terobosan dan tergerak dalam mencetak penggiat dan aktivis Anti Korupsi.

Hal tersebut dikatakan Piki Darma Kristian Pardede selaku Koordinator Sekolah Penggerak Antikorupsi GMKI Medan. Dia melihat berkurangnya kemunculan penggiat dan aktivis-aktivis muda yang menyoroti masalah korupsi. Padahal, Sumatera Utara (Sumut) terbilang sarang pejabat-pejabat yang korup.

“Rendahnya minat dan berkurangnya kehadiran aktivis muda antikorupsi sudah patut kita sadari. Ini sangat mengkhawatirkan, semakin sedikit yang memiliki concern terhadap isu-isu korupsi” kata Piki, (11/5/2019).

GMKI Medan mencoba melaksanakan program Sekolah Antikorupsi berawal dari suksesnya Sekolah Antikorupsi yang digagas oleh PP GMKI masa bakti 2016-2017. Tujuannya untuk dapat mencetak aktivis-aktivis muda antikorupsi.

Piki Pardede menjelaskan, Sekolah Antikorupsi ini dilaksanakan mulai tanggal 11 hingga 12 Mei tepatnya di Gedung lantai 2 PKM GMKI Medan, Jalan Iskandar Muda No 107A.

Piki mengatakan, jumlah peserta yang ikut sekitar 30 orang, karena satu angkatan mengakomodir beberapa pemuda di beberapa kampus.

“Mereka adalah mahasiswa yang tentunya juga bagian dari GMKI Medan dan pemuda gereja, hal ini diprioritaskan untuk mereka yang aktif di lembaga di kampus kampus yang ada di Medan dengan memunculkan iklim care to share,” jelasnya.

Disisi lain, Rommy Iman Sulaiman ST MM selaku staf Pencegahan dan Pendidikan Antikorupsi KPK RI mengatakan, pesertanya akan belajar semua hal terkait korupsi, bentuk-bentuk korupsi, penyelewengan hak dan kewanangan dalam mengatur anggaran serta cara pencegahannya.

“Kita boboti mereka dengan pelajaran ideologi antikorupsi, pengetahuan umum mengenai anti korupsi, mulai dari aspek teori teologis, mobilisasi, hukum, dan dampaknya. Peserta harus diisi dulu baru akan di lakukan penguatan dan pembinaan,” ungkapnya.

“Kemudian kita juga mengembangkan kemampuan mereka bagaimana cara memobilisasi gerakan antikorupsi, seperti cara melakukan investigasi, mengkaji anggaran, menganalisis dampak hingga mengajukan bentuk campaign,” kata Rommy.

Rommy berharap, lebih banyak pemuda Indonesia yang akan paham soal masalah korupsi dan penanganannya khususnya di kalangan generasi muda. (rel/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *