Di PN Lubukpakam | Vonis 11 Tahun Terdakwa Susanto Dinilai Tak Sesuai UU

MEDAN (bareskrim.com) | Kasus sodomi dengan terdakwa Susanto alias Antosan (45), warga Lubukpakam, Deliserdang yang telah divonis 11 tahun penjara oleh pihak majelis hakim pengadilan negeri (PN) Lubukpakam belum lama ini, dinilai tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasalnya, selaku anak asuhnya bernama Rangga (16) yang telah melaporkan kasus tersebut, terdapat sejumlah keganjilan dalam isi berkas perkara dan fakta sesungguhnya. “Hasil visum tidak terbukti adanya tanda-tanda anus si Rangga koyak atau robek. Lalu diteruskanlah perkara itu ke pelecehan,” ujar R Nainggolan pada awak media via telepon seluler saat dikonfirmasi di Lubukpakam, Sabtu (25/5/2019).

Menurut dia, yang juga berprofesi sebagai pengacara tersebut, kalau pelecehan mengapa divonis 11 tahun penjara. “Makanya pihak keluarga Antosan bertanya tanya. Kenapa anak saya kok divonis 11 tahun,” ucap kakak terdakwa menirukan ibunya.

Seingat Suparti kakak terdakwa itu, dalam sidang yang lalu tidak ada visum dalam berkas rentut jaksa yang dibaca tersebut. “Masak cuma saksi aja, kami banding tetapi tidak juga? dan sekarang ditangani penasihat hukum (PH) ke dua bernama Muspa, yang mengatakan kasusnya telah dinaikkan ke Kasasi yang kini masih menunggu jawabannya,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, sambung dia, anak asuhnya Rangga yang telah melaporkan kasus tersebut, selama dalam bimbingan Antosan ternyata kerap memakai narkoba (sabu sabu).

“Memang mereka berdua sering tidur bersama. Tapi tak pernah terjadi yang aneh setiap pagi. Ehh alih-alih Antosan selaku bapak asuhnya, malah dilaporkan ke polisi dengan tuduhan sodomi,” jelasnya.

Oleh karenanya, dari kasus tersebut pihak keluarga terdakwa memohon kepada pihak terkait agar dapat menimbang kembali atau meninjau kembali hukuman terhadap terdakwa.

“Kami tak mengerti bang waktu itu, karena kekmanalah pikiran kalut, yang penting waktu itu kami pikir bisa selesai dengan adanya pengacara atau PH yang ditunjuk. Ehh ternyata PH yang ditunjuk tersebut tak pula dapat meringankan beban keluarga,” cetusnya. (amri/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *