Tokoh Masyarakat Sipirok Laporkan Staf PanEco ke Polres Tapsel

MEDAN (bareskrim.com) | Tokoh masyarakat Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan dikabarkan melaporkan seorang staf NGO PanEco yang juga seorang Warga Negara Asing (WNA) ke Polres Tapsel pada 3 Mei 2019 yang lalu. Laporan itu berkaitan dengan aktifitas sang WNA di Hutan Batangtoru karena diduga menghasut penduduk desa.

“Memang benar, kita melaporkan Ian Singleton ke Polres Tapsel. Sekitar 3 Mei lalu kita laporkan resmi ke Polres. Dalam waktu dekat saya akan di BAP,” kata Tokoh Masyarakat Sipirok Abdul Gani Batubara, Sabtu (25/5/2019).

Abdul Gani mengatakan, laporan itu dilayangkan pihaknya setelah berkonsultasi dengan berbagai pihak tokoh masyarakat lainnya di Sipirok. Bahwa terlapor dalam hal ini dinilai telah melakukan penghasutan di hutan Batangtoru kepada penduduk di desa itu.

“Laporan kita karena kita menilai adanya upaya penghasutan penduduk desa oleh bersangkutan. Padahal dia itu kan WNA, seharusnya dia tidak melakukan hal itu. Penghasutan bisa berujung pada perselisihan antar penduduk desa,” ujarnya.

Abdul Gani hanya ingin perselisihan tersebut jangan sampai terjadi. Apalagi, sebagai tokoh masyarakat, dirinya memiliki tanggungjawab sosial yang sangat besar. Agar itu tidak terjadi, dia menilai biarkan Polres Tapsel memprosesnya.

“Informasinya sebelum lebaran. Saya akan diperiksa di BAP terkait laporan saya itu. Biarkan saja pihak berwenang yang memprosesnya,” jelasnya.

Sementara itu, Humas Polres Tapsel Iptu Alfian Sitepu menyarankan untuk langsung konfirmasi ke Kasat Reskrim Polres Tapsel. “Terkait boleh langsung ke Kasat Reskrim saja ya,” ungkapnya.

Kasat Reskrim Polres Tapsel AKP Alexander Piliang membenarkan laporan pengaduan masyarakat (dumas) itu. Namun, Alexander menyatakan, terkait WNA proses dilakukan oleh bagian Intelkam Polres Tapsel.

“Karena terkait WNA. Maka laporan itu masih diproses oleh Intel Polres Tapsel. Karena itu kan terkait orang asing ya,” jelasnya.

Seperti diketahui, beberapa NGO asing sedang melakukan kampanye hitam di hutan Batangtoru terkait Orangutan. Kampanye itu bahkan dilakukan dengan tujuan menggagalkan Proyek Strategis Nasional (PSN) disana salah satunya PLTA Batangtoru.

Namun data dan kajian pihak NGO selalu terbantahkan oleh pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) disana. (rel/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *