Tujuh Pelaku Penganiayaan Satu Keluarga di Dairi Diciduk

MEDAN (bareskrim.com) | Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumut, berhasil menangkap 7 pelaku penganiayaan satu keluarga di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Adapun motif penganiayaan tersebut terkait kepemilikan lahan.

“Pelaku ditangkap berdasarkan pemeriksaan sejumlah saksi dan olah tempat kejadian perkara (TKP),” ujar Kapolda Sumut Irjen Agus Andrianto saat menggelar konferensi pers, Senin (17/6/2019).

Dikatakan, pelaku ditangkap pada Jumat 14 Juni 2019. Dari pelaku diamankan barang bukti untuk melakukan penganiayaan, di antaranya tiga bilah parang, satu buah linggis dan satu buah palu.

Didampingi Dirreskrimum Kombes Andi Rian, Kasubdit III Umum, AKBP Maringan Simajuntak, Kapolres Dairi AKBP Erwin Siahaan, Kapolda menyebut motif penganiayaan dilatarbelakangi sengketa lahan antara ipar tersangka dan korban, Bangkit Sembiring.

“Korban, Bangkit Sembiring dituding menguasai lahan milik ipar tersangka yaitu BSin. Lalu BSin menyampaikan permasalahan itu kepada ST. Ia (ST) merupakan otak pelaku dan memerintahkan para tersangka lain untuk melakukan penganiayaan terhadap korban,” ungkapnya.

Andi Rian menambahkan, setelah menerima kuasa permasalahan lahannya dari BSin, lalu ST berkomunikasi dengan adiknya MT dan lima eksekutor lainnya.

Otak pelaku dan eksekutor sebelumnya sudah saling kenal, para tersangka diberikan uang Rp 50 juta untuk melakukan penganiayaan kepada korban.

Polisi menetapkan tujuh tersangka yakni ST, MT, W, BH, JG, BS dan BonS. Seluruh pelaku memiliki peran yang berbeda. Sedangkan terhadap BSin polisi menyebut tidak terlibat.

“Lima tersangka ditangkap di Dairi, sedangkan dua lagi diamankan di Aceh Tamiang dan Kabupaten Langkat. Uang Rp 50 juta digunakan untuk membeli peralatan dan sewa mobil. Kemudian sisanya dibagi, masing-masing tersangka mendapatkan 6 sampai 7 juta rupiah,” ujar Andi Rian.

Para pelaku dipersangkakan melanggar Pasal 340 Subs 338 Junto 53 lebih Subs 170 Ayat 2 Subs 354 Ayat 1 KUHPidana dan Pasal 76 huruf C Junto Pasal 80 Ayat 2 dari Undang-undang nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan Perppu nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. “Para pelaku diancam hukuman maksimal 10 tahun penjara,” terang Andi Rian.

Kejadian ini berlangsung pada 31 Mei 2019, di Desa Lau Kersik, Kecamatan Gunung Sitember, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Korban satu keluarga terdiri dari, Bangkit Sembiring (ayah), Kristina Boru Samosir (ibu), Semangat Sembiring (20) dan M Sembiring (17) masing-masing mengalami luka berat di bagian kepala, leher dan bagian tubuh lainnya. (amri/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *