KP USU Ingin Berbagi Plasma pada Masyarakat Madina, Tapi…

 

Ketua KP USU, Prof Chairuddin Panusunan Lubis (kanan) didampingi Sekretaris KP USU Prof Darwin Dalimunthe.
Ketua KP USU, Prof Chairuddin Panusunan Lubis (kanan) didampingi Sekretaris KP USU Prof Darwin Dalimunthe.

bareskrimMEDAN | Kehadiran Koperasi Pengembangan Universitas Sumatera Utara (KP USU) di tengah masyarakat Kabupaten Mandailing Natal bukan semata-mata untuk kesejahteraan KP-USU saja melainkan juga ingin meningkatkan kesejahteraan dan berbagi keuntungan dengan masyarakat Madina.

Menurut Ketua KP USU, Prof Chairuddin Panusunan Lubis, pemerintah melalui Pemkab Madina masa jabatan Amru Daulay memberikan kepada USU lahan seluas 10 ribu hektar untuk dikelola menjadi perkebunan kelapa sawit untuk dijadikan Land Grand University.

Agar lahan tersebut dapat dikelola, maka Rektor USU pada masa jabatan CPL, panggilan akrabnya, membentuk wadah Koperasi yang diberi nama Koperasi Pengembangan USU (KP USU). Tujuannya sebagai pusat penelitian/pelatihan, pendidikan dan beasiswa bagi mahasiswa yang kurang mampu. Selain itu, untuk meningkatkan taraf kesejahteraan pegawai dan dosen di kampus USU.

Disebutkan CPL, kehadiran KP USU di Kecamatan Muara Batang Gadis Kabupaten Madina cukup membawa manfaat bagi masyarakat sekitar lahan kebun KP USU. “Pembukaan jalan akses ke lahan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Sekitar 35 kilometer akses yang sudah dibuka KP USU,” ujarnya.

Beliau juga menjelaskan bahwa selain memberikan plasma, KP-USU juga akan membagikan sebahagian dari keuntungannya kelak kepada masyarakat sekitar lokasi perkebunan; kepada USU untuk membantu meringankan biaya pendidikan mahasiswa kurang mampu dan kesejahteraan dosen serta pegawau USU.

Sejak beroperasi di Madina, KP USU telah melakukan penanaman sebanyak 800 hektar kelapa sawit. “Informasinya kepala sawit itu sudah berbuah pasir. Namun, hasilnya tidak dapat dipastikan dapat ‘dipetik’ oleh KP USU dikarenakan terjadinya sengketa tumpang tindih lahan KP USU, di mana kini diklaim dikuasai oleh perusahaan swasta yang mengaku-ngaku pemilik areal KP-USU,” papar CPL kepada wartawan, kemarin, di Medan.

CPL menyebutkan, bagaimana KP USU ingin berbagi keuntungan kepada masyarakat Madina jika hasilnya tidak dapat dituai. “Jangankan mengambil hasilnya, sementara pegawai yang mencoba masuk ke lahan KP USU mengalami teror serta pemukulan. Pegawai kami yang membawa solar untuk keperluan operasional kebun, dipukuli oleh oknum yang mengaku dari PT ALN. Inikan aneh,” cetusnya.

Sementara, Sekretaris KP USU, Prof Darwin Dalimunthe mengungkapkan, dari 10 ribu lahan yang diberikan ke KP USU, sudah 2.000 hektar lahan yang telah dibuka dan ditanami benih kelapa sawit. Bahkan ada sekitar 800 hektar pohon yang telah berbuah pasir dan siap dilakukan pemanenan.

Di lahan KP USU juga ada sekitar 500 ribu bibit sawit. “Kita sudah bekerja selama ini, namun disebabkan sengketa izin lokasi yang bergulir ke pengadilan antara Pemkab dengan KP USU, aktivitas menjadi terhambat. Belum lagi kehadiran PT ALN yang meresahkan bagi pegawai KP USU yang menyebabkan aktivitas pemeliharaan kebun menjadi terkendala,” cetusnya.

Padahal, menurut beliau, apabila KP-USU dapat menguasai dan terus menjalankan operasionalnya di atas lahan 5.600 Ha sesuai peta bidang yang dikeluarkan oleh BPN, maka 20%-nya akan diberikan sebagai plasma bagi masyarakat. Bahkan menurut beliau lagi, areal 800 hektar pohon kelapa sawit yang saat ini telah berbuah pasir tersebut merupakan bahagian dari areal plasma yang akan dibagikan oleh KP-USU kepada masyarakat.

Oleh karena itu, Ketua dan Sekretaris KP USU berharap, persoalan ini dapat segera diatasi dan menjadi perhatian serius oleh Pemerintah Kabupaten Madina. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *