Kepling di Medan Tuntungan Direshufle

bareskrimMEDAN | Camat Medan Tuntungan, Gelora Kurnia Ginting mereshufle jajaran kepala lingkungan (kepling). Sebanyak 74 kepling diganti sekaligus dilantik di aula Kantor Camat Medan Tuntungan, Rabu (12/2/2014).

Dengan pelantikan ini, harapannya kepling sebagai ujung tombak pemerintahan, dapat semakin meningkatkan kinerjanya dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Selain itu kepling juga dituntut harus lebih visioner, kreatif dan inovatif sehingga mampu mewujudkan harapan masyarakat.

Gelora mengatakan, pelantikan yang dilakukan ini sesuai dengan Peraturan Wali Kota No 5 tahun 2011 dan Peraturan Wali Kota Medan No. 29 tahun 2012 tentang pelimpahan kewenangan kepada camat untuk penandatanganan pengangkatan dan pemberhentian kepling pada kelurahan se-Kota Medan.

Dalam peraturan itu jelas disebutkan, periode masa jabatan kepling adalah 2 tahun dan setelah itu dilakukan evaluasi.

“Pelantikan yang kita lakukan hari ini sesuai dengan Perwal yang ada mengenai periode jabatan kepling yaitu 2 tahun sekali. Dengan begitu para kepling ini tahu, jabatan kepling bukanlah seumur hidup dan bisa dievaluasi. Artinya selama masa jabatan 2 tahun itu, kinerja kepling juga dapat dievaluasi. Jika kinerjanya kurang baik, bisa diganti. Jadi kita harapkan melalui pelantikan ini, para kepling dapat lebih baik lagi dalam menjalankan tugasnya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” kata Gelora.

Gelora mengungkapkan, saat ini kepling yang bertugas di Kecamatan Medan Tuntungan sebanyak 75 orang. Namun yang dilantik hanya 74 kepling, sedangkan 1 kepling lagi sedang dinonaktifkan dan saat ini tengah dicari orang yang tepat untuk menggantikannya.

Selanjutnya dari 74 kepling yang dilantik tersebut, 7 orang diantaranya kepling baru, sebab selama masa perjalanan 2 tahun sebelumnya ada 7 kepling yang dinonaktifkan dan hari ini ketujuh kepling baru itu didefenitifkan.

Kepada seluruh kepling yang baru dilantik, Gelora berpesan agar dapat memberikan warna yang baru di lingkungan dan masyarakatnya sehingga menjadi lebih baik.

Di samping itu keberadaan kepling tidak lagi hanya sebagai simbol tetapi juga menjadi panutan baik bagi keluarga maupun masyarakat, serta menjadi ujung tombak dalam menjalankan visi dan misi Kota medan.

Dengan begitu masyarakat tidak lagi menjadi objek pembangunan melainkan sebagai subjek pembangunan.

Mengingat tuntutan kerja ke depan cukup berat, Gelora mengingatkan para kepling harus memiliki pengetahuan yang lebih agar dapat mengakomodasi kepentingan masyarakat sekaligus melakukan transformasi di segala bidang.

Apalagi kepling juga mempunyai kewenangan untuk mengatur kehidupan masyarakat yang telah dituangkan dalam peraturan.

Dengan kewenangan yang diberikan itu, kepling harus lebih kreatif untuk mewujudkan harapan masyarakat dan tidak mengandalkan bantuan pemerintah. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *