Waspadai! Masih Ditemukan Pangan Mengandung Borax dan Formalin

bareskrimMEDAN | Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Medan menyebutkan masih menemukan ada pedagang jajanan pasar yang menjual panganan mengandung zat berbahaya, borax dan formalin.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala BBPOM Medan, Setia Murni mengatakan, survei yang dilakukan sepanjang 2013 terhadap 217 sampel panganan jajanan di lingkungan dalam kota, seperti es, buah, buah sirup dan lainnya.

“Dari sample yang diperiksa itu, 216 memenuhi syarat dan 1 tidak memenuhi syarat yang mengandung borax atau 0,46 persen,” ujarnya didampingi Kabid Pengujian Pangan dan Makanan Berbahaya Jhon Edward, Rabu (12/3/2014).

Untuk di luar kota, sebutnya, ada 1.637 sample yang diuji. 1.609 sample yang memenuhi syarat dan 28 sample (1,37%) tidak memenuhi syarat. Yang tidak memenuhi syarat itu ada 17 sample yang mengandung borax, sepetri di mie dan lengkong, 10 pangan mengandung formalin ditemukan pada mie ayam dan 1 pangan mengandung rhodamin atau zat pewarna makanan di es.

Sedangkan untuk pemeriksaan berdasarkan DIPA (Daftar Isian Pagu Anggaran) terhadap Pemeriksaan Jajanan Anak Sekolah (PJAS), jelasnya, dilakukan dalam dua tahap yang umumnya dilakukan di sekolah dasar. Tahap 1 dari 126 sampel yang diuji, 95 memenuhi syarat dan 31 sample lagi tidak memenuhi syarat atau 0,24%.

“31 sample yang tidak memenuhi syarat yaitu 15 pangan mengandung sakarin, 13 mengandung siklamat, 2 mengandung borax dan 1 mengandung logam berat. “Tahap kedua, ada 58 sample yang dilakukan pengujian hasilnya 49 memenuhi syarat pangan dan 9 pangan tidak memeunhi syarat. Ada 8 pangan yang mengandung siklamat dan 1 mengandung borax (0,15 persen),” jelas Setia.

Dari persentase yang diperoeh terhadap pengujian sample, sambung Setia, berarti masyarakat sudah mengerti keamanan pangan dan bahan apa yang tidak boleh digunakan di dalam pangan. “Bagi yang tidak memenuhi syarat pangan, kita lakukan sosialisasi, pengarahan baik kepada penjual, pihak sekolah dan juga kepada anak-anak sekolah dasar,” imbuhnya.

Mengenai efek dari penggunaan formalin pada bahan pangan, sambut Jhon, bila digunakan dapat mengakibatkan gangguan saluran pernapasan dan dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan terjadinya kanker karsinogenik.

“Rhodamin dalam jumlah banyak juga dapat menyebabkan kanker. Siklamat itu dari gula yang tidak boleh bagi penderita diabetes atau penyakit gula. Kalau borax umumnya digunakan untuk pemotong kaca, bila digunakan dalam pangan dapat menyebabkan iritasi lambung, radang tenggorokan. Formalin tidak dijual bebas, dijual ditempat yang resmi di tempat penjualan bahan-bahan kimia, mungkin disalah gunakan pembelinya,” ujar Jhon.

Sedangkan sampai Februari 2014, sambungnya, ada 175 sample yang sedang dilakukan pengujian seperti pada mie, bakso atau makanan ringan lainnya.

Keduanya mengimbau kepada penjaja pangan jajanan anak sekolah untuk membeli dan menggunakan bahan-bahan yang diizinkan. “Sebelumnya kita juga sudah melakukan sosialisasi kepada para guru, kepala sekolah dan terutama anak-anak sekolah dasar agar jangan jajan sembarangan. Sebaiknya makan atau sarapanlah di rumah sebelum ke sekolah,” harap Jhon.

Hasil dari pengujian sample itu, katanya, diberikan juga kepada Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan setempat yang menindaklanjutinya. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *