Listrik Terus Byarpet, Sumut Autopilot?

Catatan: Farid Wajdi SH MHum

Autopilot adalah interpretasi terhadap kondisi dari sebuah Negeri yang dalam keadaan tetap bergerak dinamis ketika kepemimpinan oleh pemimpin negari bersikap pasif. Jadi, autopilot adalah negari tanpa kepemimpinan pemimpin negara tetapi negara dipimpin oleh rakyat secara tidak langsung atas dasar otoritasnya sebagai individu-individu.

Direktur LAPK, Farid Wajdi SH MHum.
Direktur LAPK, Farid Wajdi SH MHum.

Para individu itu bergerak berdasarkan kepentingan pencarian hidupnya, sedangkan pemimpin negara cenderung diam hanya menerima hasil.

Tetapi terlalu lama dalam posisi autopilot, pesawat akan mengalami masalah. Perubahan kapan saja boleh terjadi, sulit diprediksi dan cenderung dinamis. Autopilot adalah keadaan di mana kemudi/kendali berada pada posisi otomatis, berjalan sesuai dengan sistem tanpa campur tangan manusia.

Di Sumatera Utara, para pemimpinnya sibuk dengan agenda sendiri dan cenderung mengabaikan situasi sosial, politik dan ekonomi yang terjadi saat ini. Akibatnya, Sumatera Utara seperti sedang mengalami kekosongan kepemimpinan. Dan rakyat harus merespon fenomena ini secara bijaksana. Betapa tidak, para pemimpin di daerah tidak hadir (in absentia) dalam persoalan mengurus krisis listrik.

Untuk menyelesaikan krisis listrik yang telah begitu akut dan kritis, sepertinya tidak memerlukan kehadiran pemerintah. Sebab krisis listrik berupa pemadaman bergilir 3-5 jam per hari rakyat dan swasta sepertinya telah memiliki naluri untuk tetap berjalan menjalani kehidupan.

Bahkan, sialnya pemerintah malah dianggap sekadar berbasa-basi oleh masyarakat dan swasta akibat buruknya pola komunikasi dan posisi tawar pemerintah daerah.

Pilihan Rakyat

Para pejabat dipucuk pimpinan daerah dipilih untuk mengurus daerah dan rakyatnya. Para pejabat harus berpikir bahwa dirinya adalah bertugas untuk melayani. Hal ini juga sesuai dengan sumpah jabatan yang diucapkan dalam acara pelantikan pejabat tersebut.

Baik itu pejabat eksekutif dan legislatif harus benar-benar menjalankan fungsi dan tugasnya dengan baik.

Sumatera Utara saat ini, sangat membutuhkan sosok pemimpin, yang memiliki kearifan (wisdom) dalam mengakhiri pemadaman bergilir. Sosok yang tidak hanya mementingan dirinya sendiri (narsis) dan kelompoknya. Jabatan yang ada harus dipandang sebagai sebuah amanah, yang harus dikerjakan sebaik-baiknya.

Ingat, jabatan adalah amanah dan rakyat akan senantiasa mengawasi. Jangan latenkan status autopilot bagi Sumatera Utara. Pemilu legislatif 2014 yang lalu adalah momen terbaik bagaimana kedaulatan memang ada ditangan rakyat. Rakyat butuh pemimpin untuk menghentikan pemadaman bergilir. Jadi, jadual listrik byarpet yang sudah terstruktur, massif dan sistemik harus dihentikan. Rakyat tidak mungkin dapat menghentikan pemadaman bergilir itu.

Ketidak-hadiran para pemimpin daerah (in absentia) untuk mendorong krisis listrik cepat berakhir sangat menyakitkan. Rakyat tidak butuh wacana ketiadaan peraturan atau basa basi tetek bengek urusan administrasi.

Krisis listrik sudah terlalu akut, telah banyak korban harta dan jiwa. Secara nominal kerugian sudah tak terkira. Tanpa solusi serius dan terukur, proses pembiaran pemadaman bergilir juga jelas penindasan hak asasi rakyat oleh Negara. (Direktur Lembaga Advokasi & Perlindungan Konsumen / LAPK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *