HeadlineIndeksRegulasi

Pemadaman Listrik Ganggu Kekhusyukan Ramadhan

Catatan: Dr Farid Wajdi SH MHum

Rentetetan pemadaman listrik selama ramadhan telah mengganggu kekhusyukan umat dalam menjalani ibadah puasa. Apalagi listrik padam tak kenal kompromi. Bisa saja siang, sore, bahkan pada saat berbuka puasa, dan sahur di bulan suci Ramadhan ini.

Direktur LAPK, Dr Farid Wajdi SH MHum.
Direktur LAPK, Dr Farid Wajdi SH MHum.

Pemadaman listrik selalu muncul pertanyaan mengenai tanggungjawab, komitmen dan sensitifitas PT PLN dalam masalah ini. Padahal deretan peraturan perundang-undangan begitu banyak menyangkut kewajiban perusahaan plat merah ini.

Pemadaman listrik secara tidak beraturan yang terjadi akhir-akhir ini ternyata menimbulkan kekhawatiran banyak pihak. Persoalan itu pula yang sempat menjadi pembicaraan serius dalam muzakarah atau diskusi publik Ulama-Umara Sumatera Utara, Senin (23/6) di Kantor MUI Sumut.

Poin terpenting dari MUI Sumut setidaknya berharap kepada PLN agar tidak mematikan listrik selama Ramadhan dan Syawal, bahkan dengan dukungan dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumut, pihaknya sudah menyurati PLN. Bebas pemadaman itu dimaksudkan untuk memperlancar prosesi ritualitas kekhusyukan umat Islam dalam menjalankan ibadah.

PT PLN (Persero) mestinya dapat menjamin pasokan listrik saat bulan Ramadan dalam kondisi aman. Hal ini dilakukan demi mendukung kekhusyukan pelanggan dalam beribadah. Dalam situasi apapun idealnya puasa tahun ini, PLN siap mengamankan pasokan listrik untuk mendukung kekhusyukan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di bulan suci ini.

Cukup sudah pada Ramadhan tahun lalu, pelanggan yang melakoni ibadah bulan suci ramadhan disuguhi dengan pemadaman bergilir. Kalau pemadaman masih terjadi, komitmen pengelola PLN patut dipertanyakan. Apa yang telah dilakukan PLN selama ini. Masa pemadaman bergilir nirsolusi?

Apa upaya yang dilakukan PLN agar tidak ada pemadaman lagi. Bagaimana dengan percepatan penyelesaian perbaikan pembangkit di Belawan dan percepatan penambahan pasokan bahan bakar batubara untuk PLTU Naganraya yang sudah siap beroperasi 200 MW sebelum bulan ramadhan?

Mengapa persoalan defisit berkisar 200 mega watt (MW) pada saat beban puncak, tidak pernah bergeser. Untuk mengisi ruang deficit itu, PLN haruslah bekerja sama dengan pelanggan besar yang memiliki pembangkit listrik sendiri, untuk sementara menyalakan mesin pembangkitnya khusus pada waktu beban puncak sekitar pukul 18.00-22.00 waktu setempat.

Seterusnya, Gubsu dan DPRD Sumut dapat mendorong agar terjadi konversi seluruh deficit PLN, yaitu 200 MW dari daya 640 MW milik PT Inalum. Selama ramadhan dan syawal, solusi Inalum dikonversi jauh itu lebih logis.

Solusi krisis cuma dapat diatasi dengan kerja nyata dan tanggung jawab penuh dari para pemangku kepentingan. Jadi, posisi Inalum dalam situasi krisis listrik adalah mesin penyelamat. Inalum adalah kebijakan tanggap darurat konkrit dalam mencari jalan keluar krisis listrik. Solusi lain adalah pelengkap. (Direktur Lembaga Advokasi & Perlindungan Konsumen / LAPK)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
Close
Close