Asian Agri Peduli Petani Swadaya | Targetkan Bina 20 Ribu Hektar

MEDAN | Asian Agri Group (AAG), perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia, menargetkan hingga tahun 2016 akan membina petani swadaya dengan luasan lahan 20.000 hektar. Saat ini, baru sekitar 8.500 hektar milik petani swadaya yang dibina AAG.

Freddy Wijaya General Manager Asian Agri Group.
Freddy Wijaya General Manager Asian Agri Group.

bareskrim“Manajemen komitmen dengan kepedulian lingkungan seperti pembinaan petani sawit di sekitar kebun dan pabrik di tengah juga upaya perusahaan meningkatkan kinerja,” kata Head Plantation Services AAG, Simon Sihotang di Medan, Senin (7/7/2014), usai berbuka puasa bersama insan pers di Sumut.

Menurutnya, kemitraan dengan petani swadaya sudah memasuki tahun ketiga itu sejak dimulai tahun 2011 sudah tampak membuahkan hasil baik bagi petani maupun Asian Agri.

Produktivitas hasil tanaman petani swadaya Asian Agri misalnya terus meningkat menjadi satu hingga 2,5 ton per hektar per tahun, walau besarannya itu dinilai masih jauh dari target manajemen.

Harusnya hasil petani sawit bisa hingga 20-25 ton per hektar bahkan diharapkan bisa hingga 30an ton seperti yang dihasilkan perusahaan group Asin Agri.

Petani juga sudah menggunakan bibit unggul produk Asian Agri jenis TOPAZ, untuk tanaman yang diremajakan atau replanting sehingga otomatis juga akan mendongkrak hasil panen ke depannya.

Pemupukan juga semakin terjamin karena petani mendapat pinjaman dengan perhitungan nantinya dilakukan saat jual-beli tandan buah segar (TBS).

Simon menegaskan, tidak dipungkiri, kerjasama juga di satu sisi menguntungkan Asian Agri karena usaha kelompok atau group perusahaan mendapat kepastian pasokan TBS untuk PKS (pabrik kelapa sawit).

“Pada prinsipnya Asian Agri ingin tumbuh bersama petani yang secara global nantinya juga akan menguntungkan Indonesia yang dikenal sebagai salah satu produsen utama dan ekspor produk sawit di dunia,” katanya.

Sementara itu, Freddy Wijaya General Manager AA dalam paparannya mengungkapkan, dalam pengembangan bisnis perkebunan, Asian Agri melibatkan petani plasma dan petani swadaya yang sudah tersertifikat, untuk bekerjasama dalam program Petani Plasma di Indonesia.

“Sekitar 29.000 petani plasma dan 25.000 petani swadaya terlibat bekerjasama dengan Asian Agri dalam pengembangan bisnis perkebunan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu juga, Head CSR AAG, Rafmen menambahkan, data yang diperoleh dari Apkasindo menyebutkan luas kebun kelapa sawit di Indonesia tercatat 9,2 juta Ha. Dari jumlah tersebut, Swasta mengelola 4,7 juta Ha, Pemerintah 0,7 juta Ha, Rakyat 3,8 juta Ha (Kebun Swadaya 2,3 juta Ha).

Melihat besarnya potensi luas kebun petani swadaya yang begitu besar, Asian Agri terpanggil untuk menjalin kerjasama dalam pengelolaan kebun sawit. Dengan cara, memberikan penyuluhan teknis budidaya kelapa sawit secara keseluruhan, baik dalam kelas maupun rutin di lapangan.

Asian Agri menilai kondisi kebun swadaya saat ini masih mengalami berbagai kendala, seperti kurang tinggi produktivitas, bibit palsu, jarang dipupuk, infrastruktur jelek, belum ada kelembagaan (masih perantara tengkulak) dan belum ada pembinaan yang intensif dari instansi. Dari kondisi itu, Asian Agri terpanggil untuk menjadi bagian dari solusi & mulai tahun 2011 meluncurkan ‘Program Pembinaan Petani Swadaya’.

Petani Swadaya binaan Asian Agri Group.
Petani Swadaya binaan Asian Agri Group.

Sementara, Ketua Kelompok Tani Harapan Maju Desa Sei Sentang Kutat Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhanbatu Utara, Zaini mengaku, menyesal baru mulai bermitra dengan Asian Agri. “Karena setelah bermitra, saya dan petani lainnya baru merasakan manfaat banyak. Selain mendapat pelatihan dari managemen Asian Agri juga memperoleh keuntungan dalam segi pendapatan,” katanya.

Dia memberi contoh, kalau sebelumnya produksi sawitnya hanya sekitar 0,5 ton per hektar, maka sekarang paling sedikit sudah satu ton.

“Rupanya dulu, kami menanam bibit asalan dan ditambah tidak tepatnya pemupukan dan cara panen, sehingga hasilnya sangat sedikit. Sejak bermitra dimana kami mendapat penyuluhan, hasil meningkat,” katanya.

Bahkan, ujar Zaini, sebagian petani yang sudah melakukan peremajaan, lebih beruntung karena sudah mendapat bibit baru berkualitas, dimana tentunya hasilnya bisa seperti yang dihasilkan kebun Asian Agri.

“Tentunya hasil produksi yang bertambah banyak menguntungkan petani, apalagi harga TBS lumayan mahal atau di kisaran Rp1.600 per kg,” katanya.

Dalam buka bersama insan pers selain dihadiri Ketua PWI Sumut Muhammad Syahril dan sejumlah pimpinan media, juga hadir Bukit Sanjaya selaku Head Plantation Operation AAG, Supriadi Syam (Head SSL Asian Agri) dan Lidia Veronika Ginting (Humas AAG).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *