Kantor Imigrasi Lhokseumawe Bebas dari Percaloan

LHOKSEUMAWE | Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Lhokseumawe, Muhammad Akmal SH dengan tegas menyatakan, pelayanan di Kantor Imigrasi bebas dari percaloan.

KEPALA BARESKRIM“Kondisi ini sebagai upaya khusus Imigrasi Lhokseumawe dalam memberikan pelayanan prima (exsalen service) kepada seluruh masyarakat yang ingin membuat passport,” katanya.

Sebagai implementasi tersebut, tambah Akmal, Imigrasi Lhokseumawe telah melakukan berbagai terobosan, diantaranya adalah dengan menyekat ruang-ruang unit pelayanan, sehingga tidak akan bebas masuk bagi mereka yang bukan pegawai/petugas.

“Tidak hanya itu, seluruh pegawai/petugas Kantor Imigrasi wajib memakai baju dinas serta dilengkapi indentitas (ID card) resmi yang dikeluarkan oleh Kantor Imigrasi,” ujar Akmal.

Selain itu, Kantor Imigrasi Lhokseumawe berdomisili di tengah-tengah jantung Kota Lhokseumawe telah melakukan pembenahan manajemen secara keseluruhan demi optimalisasi pelayanan di sector public. Terkait pelayanan yang prima, sejauh ini ribuan masyarakat telah terlayani dengan baik dan santun.

Akmal menambahkan, misi dan visi Kantor Imigrasi Lhokseumawe adalah melaksanakan tugas pelayanan dengan penuh kebenaran dan tanggung jawab sebagai upaya menindaklanjuti dari pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 45 tahun 2014 tentang jenis dan tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak yang berlaku pada Kementerian Hukum dan Hak Azasi biaya manusia , antara lain tarif paspor WNI 48 halaman Rp 300.000, uang foto Rp 55.000 dan administrasi Bank Rp 5.000. Total semuanya Rp 360.000, inipun langsung disetor oleh pemohon ke Bank BNI 46. “Kami tidak pernah menerima uang tunai hanya bukti setoran saja,” cetusnya.

Selain itu, Imigrasi Lhokseumawe mengimformasikan kepada seluruh masyarakat pemohon paspor supaya melengkapi syarat-syarat yang telah ditentukan. Apabila ada pemohon yang masih kurang lengkap syarat-syarat yang ditentukan, maka pasport pemohon akan tertolak oleh system Elektric.

“Operator kami yang dikendalikan langsung oleh sistim satelit langsung dari Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM di Jakarta. Sedangkan dalam pengambilan foto pasport, pemohon tidak sembarangan, karena harus menunggu perintah dari systim electronic atau System Informasi Komunikasi Keimigrasian (SIMKIM) yang digunakan apakah memenuhi syarat atau tidak,” ucapnya.

Sementara itu, sambung Akmal, dalam memberikan pelayan yang prima, Imigrasi Lhokseumawe juga dibantu oleh beberapa petugas pelayanan biro jasa yang ada legitimasi hukum di lingkungan kantor Imigarasi Lhokseumawe.

“Legalitas para petugas biro dibekali ID Card (kartu pengenal resmi). Bahkan mereka mendapat izin operasi resmi dari kantor Wilayah Hukum dan HAM di Banda Aceh,” tandasnya.

Dari berbagai pelayanan maksimal tersebut, jajaran Kantor Imigrasi Lhokseumawe masih mempunyai kekurangan dan keterbatasan. Oleh sebab itu, Kantor Imigrasi Lhokseumawe sangat menjunjung tinggi atas adanya saran dan kritikan yang bersifat konstruktif demi kemajuan dalam bidang pelayanan.

Sementara itu, Ketua PMI dan Anggota DPRK Aceh Utara, H Ismed Nur Aj Hasan mengatakan, manajemen pelayanan Kantor Imigrasi Lhokseumawe kepada masyarakat yang hendak membuat passport sangat memuaskan.

Dimana perubahan manajemen secara total yang dikendalikan oleh Kepala Imigrasi Muhammad Akmal mampu memberikan kenyamanan kepada setiap masyarakat yang ingin membuat passport.

Kondisi tersebut merupakan sebuah formula baru yang mampu dikondisikan oleh jajaran Kantor Imigrasi. “Untuk itu, kita memberikan dukungan penuh kepada Imigrasi Lhokseumawe supaya tidak pernah berhenti dalam mengembangkan berbagai kreasi baru dalam pelayanan prima kepada public,” ungkap Ismed. (man/B)

2 tanggapan untuk “Kantor Imigrasi Lhokseumawe Bebas dari Percaloan

  • 15 April 2015 pada 6:25 PM
    Permalink

    para kepala hanya bisa bicara dan tetapkan peraturan semata,tp nyatanya ke adaan di lapangan jauh berbeda, dengan pembicara pak kepala imigrasi, saya mengalami sendiri kejadian hari senin dalam pengantrian , para calo mendekati para pekerja imigrasi untuk mempercepat tampa harus menunggu antrian ,sedangkan yang mengurus sendiri tampa perantara harus rela mengantri setelah selasai para calo., ini fakta saya mengtkan apa adanya. Dan stlah menunggu antrian ada aja alsan para pekerja imigrasi, memang kita hrus membaya melalui bank, tapi klu slip nya tdk ada, kita harus membayar kemana,, mereka selalu membual,, dg alasan tidak bisa ngeprint out slip karenatidak konek,, haha ,, könyol kok pengambilan foto bisa itu kan butuh koneksi juga,, mereka pikir masyarakat sekarang masih awam seperti dulu,,,

    Balas
    • 15 April 2015 pada 6:26 PM
      Permalink

      silah kembali lagi besok kalau gak tahun depan…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *