Klinik Guru Solusi Atasi Kendala Kurikulum 2013

MEDAN | Kurikulum 2013 sudah berjalan, namun kenyataanya belum bisa dipahami sepenuhnya oleh guru pengajar. Sebab masih banyak guru yang belum tahu penerapan kurikulum 2013 tersebut, mes­kipun pembekalan melalui pelatihan dan pendampingan sudah diberikan.

KEPALA BARESKRIMKepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sumatera Utara, Dr Bambang Winarji MPd mengakui, masih terdapat kendala guru yang belum paham dalam mengimplementasikan kurikulum 2013.

Untuk itu, LPMP Sumut telah membuka membuka klinik guru agar para guru bisa berkonsultasi tentang semua hal mengenai kurikulum 2013.

“Guru yang belum mampu mengim­plementasikan kurikulum tersebut, kita beri pelatihan dan bimbingan teknis. Kita siap menerima pengaduan tentang permasalahan kurikulum,” kata Bambang.

Disebutkan Bambang, banyak kabu­paten dan kota yang meminta LPMP sebagai instruktur pada konsultasi itu untuk pelatihan tambahan.

“Guru harus memahami kurikulum 2013 agar bisa mengajarkan materi dengan baik kepada siswa. Selain menguasai materi dengan baik, guru juga harus bisa menyajikan materi dengan metodologi yang baik juga,” imbuhnya.

Hingga saat ini, LPMP Sumut telah melatih 499.591 guru. Pelatihan tersebut bertujuan agar pelaksanaan kurikulum memiliki standar yang sama.

Sementara itu, Ketua Unit Implementasi Ku­riku­lum (UIK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Tjioto Sumadi menjelaskan, masih banyaknya guru yang belum paham dalam mengim­plementasikan kurikulum 2013 itu terlihat dari banyaknya pertanyaan yang masuk ke kantornya.

“Sampai hari ini sudah masuk pulu­han ribu pertanyaan dari lebih dari 3.000 guru yang disampaikan melalui UIK selama kurikulum 2013 tersebut diimplementasikan,” jelasnya

Tjioto menjelaskan, jenis perta­nyaannya banyak sekali. Mulai dari hal sederhana hingga meminta contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

”Padahal RPP setiap daerah berbeda karena pembelajarannya ber­basis lingkungan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah,” tegasnya.

Dia mencontohkan, pembelajaran di Solo dengan Kalimantan sangat berbeda karena lingkungannya juga berbeda. Sedangkan RPP sendiri adalah dasar pelaksanaan kurikulum 2013.

”Meski banyak guru yang memahami hal tersebut, bukan berarti mereka tidak siap. Harus dibedakan antara-siap dan tidak tahu, sebab kurikulum 2013 ini bukan sesuatu yang benar-benar baru karena merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya,” jelasnya.

Kemendikbud telah menyiapkan kurikulum 2013 sejak 2010 lalu. Jadi kurikulum tersebut melalui perencanaan yang matang. Tjioto mengakui, jika penerapan yang terjadi di daerah masih banyak kendala, seperti penyiapan buku ajar yang membutuhkan waktu lama.

Saat ini, lajut Tjioto, anak SD tidak perlu membawa buku dalam jumlah banyak tiap berangkat sekolah. Cukup membawa dua buku yang terdiri dari satu buku tulis dan satu buku bacaan karena sudah terintegrasi dan tematik.

“Singapura juga membutuhkan waktu lama untuk menerapkan kurikulum sejenis, sehingga dibutuhkan pelatihan dan pendampingan hingga evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum 2013,” katanya. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *