Pakar ITM | Banjir di Medan Akibat Resapan Air Berkurang

MEDAN | Pakar perencanaan dan transportasi ITM Kaspan Eka Putra MT PhD mengatakan, fenomena yang terjadi sekarang ini di Kota Medan, kalau ada hujan dengan intensitas yang cukup tinggi lalu terjadi genangan air (banjir).

KEPALA BARESKRIMKalau air tidak terdistribusi dengan baik ke drainase sehingga sirkulasi air itu tidak terbuang ke pembuangan primer dan sekunder.

Konsekwensinya akan menumpuk air pada lokasi tertentu, karena daya resapan air sudah hilang. Kota yang baik itu adalah kota yang ada rasio pembangunan wilayah terbangun (yang diisi bangunan bersifat beton) dengan wilayah yang tidak terbangun. Jadi sekarang ini terjadi pelanggaran, dimana lahan-lahan itu semakin banyak yang dibeton.

Jadi tanah sebagai resapan air dan ruang terbuka hijau semakin hari semakin berkurang. Konsekwensinya, bila terjadi hujan maka resapan air tidak ada, akibatnya air menggenang sebagai cikal bakal terjadi banjir, kata Kaspan menjawab wartawan di kamar kerja rektor ITM Medan, kemarin.

Dikatakannya, apabila intensitas air tinggi maka terjadi banjir. Apalagi kualitas drainase semakin hari terjadi penyimpitan sehingga saluran ke sungai tidak lancar. Jadi, akibat pertumbuhan ekonomi di Medan sangat tinggi, berpotensi terhadap pertambahan bangunan yang muncul di kota Medan semakin padat.

Berbicara tentang Kota Medan semakin hari semakin macet, Kaspan mengatakan, pertumbuhan kenderaan di kota Medan sekitarnya mencapai 10 persen, sementara pertumbuhan ruas jalan tidak ada, hanya ada perbaikan jalan.

Konsekwensinya, jalan yang ada diisi oleh pertumbuhan kenderaan pribadi yang sangat tinggi sehingga macet pada jam dan waktu-waktu tertentu. Semakin hari semakin terjadi kemacetan.

Pertumbuhan kenderaan pribadi cukup tinggi, karena tidak dibarengi dengan pertambahan kenderaan umum. Kalau di kota-kota besar lain di dunia ini, pertumbuhan kenderaan tinggi tetapi juga disediakan angkutan umum yang baik sehingga ada pilihan warga.

Angkutan umum yang baik itu, harganya murah, nyaman, aman dan tepat waktu sampai tujuan. Sehingga orang cenderung menggunakan angkutan umum.

Sementara yang terjadi di kota Medan, perbaikan kualitas angkutan umum tidak terjadi. Bahkan pelayanan angkutan umum di Medan sangat rendah. Sehingga orang malas pakai kenderaan umum akibatnya orang berlomba-lomba menggunakan kenderaan pribadi.

Disinggung tentang pajak progresif bagi pemilik mobil lebih dari satu, apakah sebagai upaya untuk menekan jumlah kenderaan pribadi, Kaspan menjelaskan dalam penanganan transportasi perkotaan banyak strategi yang digunakan.

Salah satunya peningkatan pajak progresif terhadap kenderaan pribadi. Namun efektifitasnya untuk mengurangi kenderaan pribadi perlu kita pertanyakan. Harusnya diimbangi dengan menyiapkan angkutan umum yag murah dan baik.

Untuk mengatasi banjir di Kota Medan, katanya, usahakan ratio untuk pembangunan ruang terbuka hijau ditingkatkan, perbaikan sistem drainase dan pengaturan zonasi kawasan tersebut seperti daerah resapan air jangan diberi ijin bangunannya.

Karena sudah ada tata ruang, jadi kita harus konsisten menaati tata ruang itu. Tata ruang itu yang disusun oleh pakar dan akademisi. Tetapi kita tidak tertib dan tidak patuh. Malah ada yang mengeluarkan ijin pada sepadan sungai dan daerah kawasan resapan air.

Pinggiran sungai itu ada namanya daerah aliran sungai (DAS). Dua puluh meter dari pinggiran sungai tidak boleh ada bangunan. Tapi cobalah cek bangunan di kota Medan ini, sudah banyak bangunan di pinggir sungai, katanya. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *