Mahasiswa Tolak Demokrasi Liberalisme dan Kapitalisme di Kabinet Jokowi

MEDAN | Kegiatan Indonesia Congress of Muslim Student (ICMS) 2014 untuk wilayah Sumatera Utara dipusatkan di Pendopo USU, telah berakhir yang dihadiri sekitar 2.500 mahasiswa baik PTN maupun PTS di Medan.

KEPALA BARESKRIMAcara spektakuler yang digagas oleh mahasiswa yang tergabung dalam Gema Pembebasan, BKLDK dan HTI Chapter Kamus ini mengambil tema “We Need Khilafah Not Democracy and Liberal Capitalism ” dengan maksud dan tujuan untuk menyatukan arah pergerakan mahasiswa untuk menegakkan kembali khilafah dan menolak demokrasi, liberalisme dan kapitalisme.

M Fahrur Rothib mewakili mahasiswa Institut Teknologi Medan (ITM) menyampaikan orasi menyangkut, “Khilafah Kepemimpinan Yang Adil Menggantikan Penguasa Demokrasi“.

Dia menjelaskan tentang kerusakan demokrasi yang telah menimbulkan kehancuran umat islam dan menyerukan penegakan kembali khilafah sebagai solusinya.

Dalam acara tersebut juga diisi dengan Pembacaan Resolusi Mahasiswa menuntut Rezim Presiden Jokowi agar meninggalkan sistem demokrasi, liberalisme, kapitalisme dan sumpah mahasiswa Islam.

“Para mahasiswa dengan lantang mengikrarkan janjinya termasuk berjuang untuk menegakkan syariah dan khilafah. Kongres Mahasiswa Muslim terbesar di Indonesia ini berjalan dengan sukses dan lancar,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Lajnah Khusus Mahasiswa (LKM) HTI Sumut Edwarsyah (alumni USU ) menyampaikan sudah saatnya mahasiswa melakukan revolusi islam tanpa kekerasan dengan menegakkan kembali khilafah dan meninggalkan sistem demokrasi kapitalisme.

Abdullah Efendi Harahap (Mahasiswa UNIMED) selaku orator pertama menyampaikan orasi “Khilafah mewujudkan Sistem Ekonomi Mensejahterakan”.

Ia mengatakan, saat ini Indonesia dikuasai asing dengan sistem ekonomi yang liberal dan kapital sehingga melahirkan kemiskinan dan kesengsaraan bagi rakyat. “Tidak ada solusi lain kecuali menegakkan sistem ekonomi Islam dalam naungan khilafah,” paparnya.

Sedangkan orator kedua M Surya Sahputra (USU) dalam orasi politiknya, “Khilafah Mewujudkan Peradaban Mulia dan Agung menjelaskan, Islam adalah solusi dari problematika umat yang telah terbukti mampu menguasai sains dan menjadi negara super power ketika khilafah ditegakkan.

Amali (Gema Pembebasan) orator terakhir pada orasi, “Tegaknya Khilafah Melahirkan Generasi Terbaik Abad Ini” mengemukakan betapa buruknya kondisi umat saat ini, dimana pendidikan sangat jauh dari apa yang diharapkan seperti masih banyaknya guru honor yang masih bergaji Rp 300 ribu/bulan di berbagai daerah. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *