EdukasiHeadlineIndeksSosial

Tenaga Kesehatan Berikan Informasi Kespro Sejak Dini

MEDAN | Tenaga kesehatan harus ikut memberikan pendidikan kesehatan reproduksi (kespro) kepada anak yang sudah duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

boyindahKEPALA BARESKRIMHal ini untuk meminimalisir perilaku seks bebas di kalangan remaja dan menjauhi remaja dari resiko kanker serviks serta penyakit menular seksual.

“Sebagai tenaga kesehatan beri informasi kepada anak-anak sejak dini, maksimal yang sudah duduk di SMP tentang pendidikan kesehatan reproduksi. Selain itu, gandeng sektor lain seperti tokoh agama untuk memberi pencerahan, karena pendidikan agama dan seks harus seimbang,” kata Pakar Seksologi dr Boyke Dian Nugraha SpOG MARS pada Seminar Nasional yang diselenggarakan Akbid Yayasan Indah Medan, Selasa (16/12/2014).

Menurutnya, pendidikan kesehatan reproduksi di kalangan remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan sebagainya.

Dengan demikian, anak-anak remaja ini bisa terhindar dari percobaan melakukan seks bebas. “Orangtua juga jangan cuek terhadap perkembangan anak-anaknya,” imbuhnya.

Selain seks bebas di kalangan remaja, dr Boyke juga membahas masalah keputihan. Menurutnya, keputihan merupakan masalah yang menjadi persoalan bagi kaum wanita. Tidak banyak wanita yang tahu apa itu keputihan dan terkadang menganggap enteng persoalan keputihan pada wanita.

Dikatakannya, keputihan yang terus menerus dialami wanita bisa mengakibatkan kemandulan. Keputihan juga bisa merupakan gejala awal dari kanker leher rahim yang bisa berujung pada kematian. “Jadi jangan dianggap enteng ya,” tegasnya pada ratusan mahasiswa dalam seminar tersebut.

Dia meminta agar setiap wanita untuk selalu waspada terhadap keputihan. Apabila mengalami keputihan bisa mencari tahu apakah berbahaya atau tidak ke dokter.

“Biasanya keputihan yang berbahaya itu apabila terasa gatal, berbau, berwarna, bahkan bercampur darah, bila seperti itu segera periksakan. Terkadang ada juga keputihan yang karena alergi makanan seperti buah timun, nenas, durian, dan seafood,” pungkasnya sembari mengatakan, keputihan harus segera diobati.

Sebelumnya, Ketua Yayasan Indah Medan, dr M Rizki Ramadhan SH saat membuka seminar nasional tersebut mengatakan, penyakit menular seksual (PMS) sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia.

Insiden dan pravelensi sebenarnya diberbagai negara tak diketahui denbgan pasti, sebab PMS merupakan satu kelompok penyakit yang penularannya terutama melalui hubungan seksual.

“WHO menyatakan setiap tahun diseluruh negara terdapat sekitar 250 juta penderita baru yang meliputi penyakit gonore, sifilis, herpes genetalis dan jumlah tersebut hasil analisis WHO cenderung meningkat,” ujarnya.

Menurut Rizki seminar ini dilaksanakan mengingat kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi pada pria dan wanita dirasa kurang karena pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi masih rendah.

Kemudian informasi masalah kesehatan reproduksi selain penting diketahui bagi mahasiswa Akbid juga penting untuk para pendidik dan penyelenggara program khususnya bagi remaja agar dapat membantu menurunkan masalah kesehatan reproduksi remaja.

“Dengan seminar ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa peduli terhadap kesehatan reproduksi, di samping merupakan bentuk evaluasi pengaplikasian kepedulian para mahasiswa Akbid. Apalagi saat ini persyaratan untuk perpanjangan STR harus mengikuti seminar minimal 30 SKP dan seminar yang dilaksanakan Akbid ini 3 SKP,” jelasnya.

Seminar yang mengambil thema “Upaya pencegahan PMS dan risiko PMS terhadap kesehatan refroduksi” serta dilanjutkan dengan “Perawatan kesehatan kulit yang aman pada ibu hamil dan menyusui” dengan nara sumber dr Reisa Broto Asmoro (Dr OZ Indonesia) ini diikuti dengan 800 peserta. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button