AKI di Indonesia Masih Tinggi

MEDAN | Indonesia menargetkan Angka Kematian Ibu (AKI) mencapai 102/100 ribu kelahiran hidup pada akhir 2015.

KEPALA BARESKRIMNamun kenyataan hingga kini, AKI malah menunjukkan peningkatan mencapai 359/100 ribu kelahiran hidup.

Bahkan, Sumatera Utara (Sumut) merupakan salah satu kontributor terbesar dalam AKI, yakni sekitar 249/100 ribu kelahiran hidup.

Plt Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat, Prof Fasli Jalal mengungkapkan hingga kini Indonesia memang belum berhasil mencapai target AKI.

Walaupun pelayanan dari tenaga kesehatan terlatih sudah cukup baik dan banyak, namun beberapa indikator keluarga berencana (KB) jauh dari yang diharapkan.

Kondisi ini, cukup memalukan, lantaran peningkatan tenaga terlatih dan peningkatan ekonomi yang terjadi di negara saat ini, belum terefleksi dalam AKI.

“Jika dibandingkan indeks pembangunan manusia dengan negara pendamping kita, seperti Singapura terlihat AKI terendah dan beberapa negara lain menunjukkan angka yang cukup baik. Tapi Indonesia, malah meningkat. Dengan sasaran MDGs (Millennium Development Goals) sebesar 102/100 ribu kelahiran hidup pada akhir tahun 2015, tapi hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 malah menunjukkan peningkatan menjadi 359/100 ribu kelahiran hidup,” ujarnya saat menjadi Keynote Speech Pertemuan Ilmiah Berkala Himpunan Endokrinologi Reproduksi dan Fertilitas Indonesia (PIB HIFERI) VII di Tiara Convention Center Medan, Senin (2/2/2015).

Menurut Fasli, hubungan antara AKI dengan KB cukup dekat. Misalnya di Afrika Tengah, saat cakupan ber-KB masih dibawah 10%, AKI diatas 600/100 ribu kelahiran hidup.

Namun dengan cakupan ber-KB diatas 20%, AKI dibawah 200/100 ribu kelahiran hidup. Ini menunjukkan bahwa korelasi antara KB dan AKI sangat signifikan. Oleh karena itu, lanjutnya, diperlukan upaya keras dan komitmen bersama untuk dapat mencapai target pada tahun 2015. Diantaranya dengan menyukseskan program KB.

“AKI terbanyak hingga saat ini masih di beberapa provinsi terbesar, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatera Utara. Kemudian diikuti provinsi lainnya,” jelas Fasli.

Di BKKBN, imbuhnya, jika dilihat dalam capaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Tahun 2010 – 2014, harusnya sudah berhasil menurunkan angka pertumbuhan penduduk menjadi 1,1% di tahun 2014, ternyata masih sekitar 1,5%.

Penyebabnya antara lain karena angka TFR (total fertility rate) pasangan usia subur masih bertahan selama 10 tahun terakhir sebesar 2,6% dan cakupan ber-KB hanya naik 0,1%/ tahun.

Sehingga keinginan menaikan 65% cakupan ber-KB ternyata hanya bertahan pada 57,9%. Dan berdasarkan angka kelahiran menurut umur (ASFR), rata-rata jumlah remaja usia 15 sampai 19 tahun yang sudah mempunyai anak, turunnya sedikit sekali. Dari 51/1.000 menjadi 58/1.000 perempuan. Padahal targetnya adalah 30/1.000 perempuan.

“Yang agak mencemaskan, justru ASFR ini meningkat di kota dari 26/1.000 perempuan menjadi 32/1.000 perempuan. Padahal akses informasi dan fasilitas KB lebih baik didapatkan di kota,” jelasnya.

Dari data, terlihat upaya dalam menurunkan angka pertumbuhan berjalan melandai. Karena itu dalam mencapai target MGDs ini, diharapkan peran dokter spesialis obgyn dalam memberikan kontrasepsi jangka panjang. Karena selama ini yang paling banyak digunakan metode ber-KB jangka pendek yang tidak efektif. Juga untuk meningkatkan peran lelaki dalam ber-KB.

“Kita berharap melalui pertemuan ilmiah ini, kerjasama POGI (Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) dan HIFERI dalam membantu menyukseskan program KB di tahun 2015 – 2019, agar angka kematian ibu bisa diturunkan untuk mencapai keluarga dan generasi berkualitas di Indonesia,” tukasnya.

Dalam kesempatan ini, Ketua Pengurus Besar (PB) POGI, Nurdadi Saleh mengharapkan pertemuan ilmiah HIFERI ini, bisa melahirkan minimal satu consensus yang bersifat nasional, sehingga lahir pedoman nasional dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, terutama kesehatan ibu dan anak. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *