Manggrove Diolah Jadi Bahan Baku Batik dan Makanan

LANGSA | Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan melalui Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Tabina Gampong (Desa) Alue Beurawe, Kecamatan Langsa Kota, mengembangkan produk olahan hutan mangrove (bakau) sebagai bahan baku menjadi batik tulis dan makanan berupa dodol, sirup, kue kering maupun basah.

KEPALA BARESKRIMProduk olahan ini berhasil dikembangkan BKM Tabina tersebut pada pelatihan membatik dan makanan berbahan mangrove yang disponsori oleh Yayasan Gajah Sumatera (Yagasu) dan Aceh Wetland Foundation (AWF) sebagai lembaga yang konsen untuk melestarikan hutan manggrove di gampong setempat.

Dalam pelatihan ini masyarakat disana dilatih cara membuat batik tulis dan makanan yang berbahan baku mangrove dengan cara mengolah ranting, kulit dan daun mangrove sebagai bahan pewarna batik. Sedangkan, makanannya diolah dari buah mangrove.

Acara penutupan pelatihan ini langsung ditutup oleh Walikota Langsa, Usman Abdullah SE dan dihadiri Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) setempat, AKBP Navri Yuleni SH MH dan Direksi PTPN-I diwakili Kepala Urusan Humas dan Protokoler, Syaifullah.

Walikota menyatakan, Pemko Langsa berkomitmen untuk mengembangkan produk olahan dari hasil hutan mangrove ini, sehingga nantinya akan menjadi salah satu produk khas di Kota Langsa, dari hasil hutan mangrove.

Komitmen Pemko Langsa ini ditandai dengan anjuran memakai batik mangrove bagi seluruh PNS dan kepala desa.

“Saya atas nama Pemko Langsa akan mendukung pengembangan produk ini, namun semua kita harus bersama-sama mendukung hasil produk daerah kita sendiri demi kemajuan daerah yang kita cintai,” ujarnya.

Menurutnya, produk-produk ini akan menjadi produk andalan di Kota Langsa yang bahan bakunya berasal dari hasil hutan mangrove.

Apalagi, produk olahan ini sangat ramah lungkungan dan kita akan komitmen untuk membantu mengembangkannya.

Karena pemanfaatan hasil hutan non kayu ini lebih penting dari pada pemanfaatan kayu. Jadi, dengan adanya kegiatan seperti ini sangat membantu sekali untuk meningkatkan ekonomi kreatif yang nantinya menjadi terbosan baru melindungi hutan bakau dengan memanfaatkannya untuk kepentingan ekonomi masyarakat.

Komitmen Pemko Langsa ini ditandai dengan anjuran memakai batik mangrove bagi seluruh kepala desa di Kota Langsa.

“Saya atas nama Pemerintah Kota Langsa akan mendukung pengembangan produk ini, namun semua kita harus bersama-sama mendukung hasil produk daerah kita sendiri,” kata Wali Kota.

Kepala BNN Langsa, AKBP Navri Yuleni, mendukung produk olahan batik yakni dengan membukti sebagai lembaga yang pertama memesan batik yang nantinya seluruh pegawai BNN setempat, akan memakainya.

“Karena dengan adanya kegiatan seperti ini sebagai salah satu cara mengurangi angka pengangguran dan juga untuk manjaga generasi kita jauh dari pengaruh narkoba,” ujarnya. (man/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *