Timsus Anti Begal Dibentuk Buru Pelaku Kejahatan Jalanan

MEDAN | Polisi menabung genderang perang terhadap pelaku kejahatan jalanan dengan membentuk timsus anti begal. Tim itu gabungan dari Polda, Polres dan Polsek jajaran.

KEPALA BARESKRIMWakapolresta Medan, AKBP Hondawan mengatakan, para pelaku begal atau penjahat jalanan akan ditembak sebab sudah sangat meresahkan masyarakat dengan berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini.

“Tindakan tegas ini harus dilakukan‎ terhadap para begal. Para pelaku kejahatan ini sudah sangat meresahkan dan tak peduli siapapun akan menjadi korbannya bahkan sampai menewaskan, pantas kiranya kita tembak,” ujar Wakapolresta usai pembentukan tim khusus (Timsus) Anti Begal di Mapolresta Medan.

Pihak kepolisian, kata Wakapolresta, selalu menjunjung hak azasi manusia (HAM). Namun, kita harus menjunjung hak azasi masyarakat yang menjadi korban. ‎

“Ini yang paling penting. Pelaku saja sampai membunuh korban, jadi pantas rasanya jika para pelaku diberi tindakan tegas,” ujarnya.

Menurut Wakapolresta, Timsus yang dibentuk ada 15 tim merupakan perintah Kapolda Sumut Irjen Pol Eko Hadi Sutedjo.

Para personel di tim merupakan gabungan dari Reskrimum Polda Sumut, Resmob dan Polresta termasuk Polsek-Polsek. Seluruhnya harus berkoordinasi dan jangan bekerja asal-asalan sebab target sudah ditentukan.

“Targetnya orang-orang yang sudah terdata‎, termasuk lokasi-lokasi yang dianggap rawan tindak kejahatan jalanan dan kerap dijadikan tempat para begal beraksi,” terangnya.

Ditambahkan Wadir Reskrimum Polda Sumut, AKBP Wawan Munawar, ada 15 tim terdiri dari 10 Polresta dan Polsek dan 5 Polda Sumut. “Tapi seluruh personel Polda dan Resmob, bergabung ke dalam tim Polsek yang dianggap membutuhkan dukungan personel,” jelasnya.

Disinggung lokasi rawan begal, Wawan mengaku ada 12 tempat yang perlu menjadi perhatian. “Hasil pendataan, 12 titik perlu mendapat perhatian,” tegasnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Medan, Kompol Wahyu Bram menambahkan, keterlibatan personel Polda Sumut ‎ ke dalam tim ini karena Polresta kekurangan personel.

“Dalam sebulan saja, kita menerima 300 sampai 400 laporan peristiwa kejahatan. Sedangkan personel yang bertugas di lapangan hanya 49 orang dibantu penyidik 60,” akunya.

Meski demikian, sambungnya, upaya pengungkapan kasus tetap terus dilakukan. Buktinya, tegas mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini, pihaknya mampu ‎mengungkap 67 persen dari laporan yang ada. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *