HeadlineIndeksKriminalitas

Sidang Perkara Pembunuhan PRT di Jalan Beo Medan

MEDAN | Sidang kasus penganiayaan dan pembunuhan pembantu rumah tangga (PRT) dengan terdakwa Bibi Randika kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (20/5/2015).

KEPALA BARESKRIMDalam sidang tersebut, saksi korban penganiayaan, Rukmiani mengaku berulang kali disiksa, salah satunya disuruh naik turun tangga sebanyak 200 kali.

“Itu sekitar bulan Oktober 2014, saya dan Cici (korban meninggal) disuruh naik turun tangga 200 kali, secara bergantian, pas di bawah selalu dipukuli sama Feri dan Bahri dengan kemucing. Itu atas suruhan Bibi Randika,” katanya.

Tidak itu saja, pipi sebelah kirinya juga pernah ditampar hingga mengeluarkan darah oleh terdakwa pada suatu sore hari di Bulan Oktober. Kemudian di lain hari, pada pagi harinya, dia juga ditendangi oleh terdakwa karena dianggap tidak selesai dalam membersihkan tempat kucing.

“Dia bilang saya najis. Katanya baju saya jatuh di lantai dan harus dibersihkan, tapi setiap dipel, katanya kurang bersih, lalu ember pelnya disiramkan ke lantai lalu disuruhnya lagi, gitu terus,” katanya.

Selain itu, dia juga mengaku ada suatu hari di bulan yang sama saat dia keluar kamar, terdakwa langsung menggamparnya. “Waktu itu sehabis nyuci, kepaala saya digampar sama Bibi, itu terjadi setelah Cici meninggal dunia,” ungkapnya.

Mengenai Cici, kata dia, dirinya menyaksikan secara langsung peristiwa dari awal mulai saat Cici dipukuli, diseret ke kamar mandi sampai saat direndam di bak mandi.

“Cici ini disiksa terus sama Feri, Bahri dan Zahri. Dia 2 hari sekali disepak diseret, alasannya, karena ngepelnya kurang bersih dan yang memerintahkan itu ya si terdakwa,” katanya sembari menambahkan dia juga disuruh memakan dedak oleh terdakwa.

Menurutnya, peristiwa yang menyebabkan Cici meninggal. Saat Bibi Randika di ruang makan menyuruh Feri, Bahri dan Zahri untuk merendam Cici, karena mengepel tapi kurang bersih.

Selanjutnya, kata dia, Bahri memegang kaki Cici, Zahri memegang pinggang Cici bersama Feri. Setelah sampai di kamar mandi, lanjutnya, kepala Cici dicelup di bak mandi.

“Saya melihat dia lagi direndam. Saya melihat dia diseret. Saya ngintip dari atas. Dan itu Bibi Randika melihat itu,” ungkapnya.

Saat itu, katanya, Cici diletakkan di bawah tangga, dekat tempat kucing. Feri menyuruh mengambil handuk kemudian Rukmiani, Yanti dan Anis, sesama PRT di rumah tersebut yang juga menjadi korban mengganti pakaiannya.

Menurutnya, saat itu Cici sudah tidak lagi bernyawa. Dia melihat saat itu Bahri sempat menangis melihat Cici meninggal. Setelah itu, dia dan 2 orang prt lainnya disekap di kamar atas oleh Bahri.

Keesokan harinya, saat dia dan 2 prt lainnya turun dari kamar atas, Cici sudah dipindahkan dari bawah tangga. Dari Feri, kata dia, Cici dibawa ke rumah sakit. Dia baru mengetahui Cici dibawa ke Tanah Karo setelah kasusnya terkuak.

Sementara itu, terdakwa membantah pernah memukul Cici, menendang, bahkan menyuruhnya memakan dedak (makanan ayam).

Hal ini dibantah Bibi seusai majelis hakim mendengarkan keterangan saksi Rukmiani.

“Saya tidak pernah menampar Rukmiani. Saya juga tidak pernah memukul dan menyuruh Cici makan dedak. Saya juga tidak pernah menyuruh Feri, Kiki, Bahri dan Zahir merendam Cici ke kamar mandi. Saat itu saya sedang di kamar, bukan di ruang tamu,” ucapnya.

Mendengar bantahan Bibi Randika, saksi Rukmiyani malah berteriak bohong. “Bohong dia, majelis. Dia yang menyuruh semuanya,” ucap saksi. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING
Close
Back to top button